Sunday, 13 October 2013

Cara merawat rambut agar tidak rontok



Hello mg-layers, selamat sore., Aku kali ini di Meteore Guardian akan memberikan tips Cara merawat rambut agar tidak rontok kali ini.. Hehehe.,Serius loh,

Biasanya penyebab rambut rontok itu antara lain :


a. Karena serangan penyakit malaria, typus, kencing manis atau penyakit menahun lainnya.
b. Tekanan jiwa yang berkepanjangan.
c. Karena kandungan gizinya rendah.
d. Ibu - ibu yang habis bersalin

Dianjurkan :

- Makanlah makanan yang bergizi
- Pijatlah kepalamu dengan teratur
- Lepaskan tali rambut pada waktu tidur
- Keramaslah dengan terarur

Nah, Pengobatannya ialah :


1. Ambillah daun lidah buaya potong dan ambillah getahnya, kumpulkan dan dapat kita pakai kita pakai untuk keramas, lakukan dengan teratur sampai rambut kita lebat dan hitam.

2. Kemiri yang sudah tua ditumbuk sampai halus dan ditambah dengan air, masaklah sampai menghasilkan minyak, pakailah sebagai minyak rambut, lakukan berulang - ulang 2 atau 3 bulan.

3. Untuk menghitamkan rambut yang sesudah dikeramas dengan bersih, bilaslah sekali lagi dengan air yang dicampur dengan air jeruk nipis, lakukan berulang - ulang. Hingga menghasilkan rambut yang bersih dan hitam.

Makasih udah mau baca artikel ini ^.^

Resep Masakan : Kalkun


Hello mg-layers., bertemu lagi dengan saya Rura Ikemi di Meteore GuardianResep Masakan : Kalkun Hehehe.. Kali ini aku akan bagiin Resep Kalkun ala Chef Eliz : Kalkun, semoga bermanfaat.. ^.^

Ingredients :
+ 1 kalkun
+ 1/3 cangkir mentega , suhu kamar
+ 225 g bacon berlemak
garam & merica secukupnya

Irisan :
+ 2 sdm mentega
+ 1 bawang bombay besar , cacah halus
+ 115 g bacon asap , cacah halus
+ hati kalkun , potong dadu
+ 3 1/3 cangkir kastanye , kupas , masak , potong dadu
+ 4 sdm peterseli segar , cacah
+ 1 sdm timi segar , cacah
+ 1/4 sdt lawang (atau pala) bubuk
+ 225 g babi giling
+ Garam & Merica secukupnya

Steps :
1. Untuk menyiapkan isi , lelehkan mentega di wajan besar dengan api sedang.
2. Goreng bawang bombay , bacon , dan hati kalkun hingga bawang bombay bening & bahan lainnya mulai kecoklatan ( sekitar 10 menit ) aduk rata
3. Pindahkan campuran bawang bombay ini ke mangkuk besar , lalu tambahkan kastanya matang , peterseli , timi , lawang , babi diling , garam , & merica aduk sempurna.
4. Untuk membuat kalkun , panaskan oven hingga 220°C
5. Susupkan irisan renggang - renggang di rongga kalkun ( buang lebih dulu jeroannya)
6. Ikat rapat kedua kaki kalkun dengan benang dapur.
7. Baluri selaruh kulit kalkun dengan mentega dan bumbui dengan garam & merica.
8. Letakan bacon secara tumpang tindih di atas kalkun.
9. Tutupi juga kaki kalkun dengan bacon.

Friday, 11 October 2013

Tokyo Here I Come !


Ahkirnya sampai di Tokyo
tetep nge - blog dong, Rura gitu loh..,
Walau aku ada di "Tokyo, Japan" Nggak lupa dong sama asal negaraku "Indonesia"
Bahasanya tetap Indonesia :D

Hohoho.. boro - boro sampai ke Jepang, ke sumatra aja belum :P Yah.,
Khayalan yang sia - sia

Jadi semua itu bo'ong? (Iya dong guys) Klo nggak, aku di Jepang sama sapa? Keluarga, nggak ada
Teman, nggak ada
Kenalan, nggak ada

Keren klo bisa sampai ke Jepang langsung.., (Yee.. kirain beneran sampai Jepang)
Ahahaha... kalau beneran sampai Jepang, tetep nulis di Blog kan aku.,
Walau jepang bahasanya Kaya gitu, ruwet!!
Ok kapan2 ikut ke Jepang sama aku yukz, biar aku nggak sendirian di Jepang, nanti malah kesepian., Ciah!! Bisa aja aku nih.

Karena nggak ada yang ngajak omong jadi omong sendiri deh aku.., ( . .  ) Gila, ya??

Biarlah, yang penting hepii.. Latihan Monolog :D

Sunday, 6 October 2013

Pergi ke Sydney dan jalan2 ke tempat misterius

   
Inilah mimpiku dimalam Selasa, 10 September 2013...

                Berangkat dari rumah pada malam hari, sampai di pelbuhan. Turun dari bis lalu pergi ketempat duduknya masing - masing. Beberapa menit kemudian sampailah kami di Benua Australia, kemudian menaiki Bis lagi. Setelah perjalanan yang cukup lama ahkirnya sampai di Toko pakaian yang menyediakan makanan. Setelah kenyang makan, kita berangkat lagi menuju Rumah Kayu yang pemandangannya sangat indah, disaat malam hari kami menikmati pemandangan indah yang terpancar dari Sydney opera.Kemudian kami menjadi ingin berfoto disana, tapi sayangnya kami semua tidak membawa kamera. Kami ahkirnya menaiki bis lagi untuk kembali ke pelabuhan. Saat dalam perjalanan pulang kapal kami berputar 180° ahkirnya kembali kebentuk semula. Setelah sampai di Indonesia kami pulang ke rumah masing - masing.

Setelah dari Sydney kami pergi ke Time Zone di kota Quied. Saat tiba di Time Zone ternyata malah tutup ( mesin gamenya tidak menyala semua,seperti mati lampu *Untung saat siang hari*) tetapi pintu Time Zonenya terbuka.Jadi kami bisa masuk kedalam Time Zone dengan mudah, Time Zonenya kecil sekali dan seperti jarang dibuka(Bangkrut). Disana kami bermain mandi bola, tetapi bolanya nggak ada, cuma ada baknya saja (Tempatnya). Ternyata bolanya dipindah di dalam karung.K Kami pun memindahkannya dan kami bermain bola,Kemudian aku menemukan kolam biskuit. Isinya biskuit dan aneka snack (makanan ringan). Ada juga wafer yang masih dubungkus dengan plastik, setelah mencicipi makanan ringan tersebut ternyata rasanya sangat aneh. Setelah puas bermain, tiba - tiba datanglah bapak - bapak dan keluarganya ke sini, karena tak tahan dengan asap rokok ahkirnya kami keluar dari Time Zone tersebut. Ternyata saat diluar saku yang lewat disamping kanan Time Zone dangan menggunakan motor, lalu aku juga bertemu Celly dan 1 anak cewek kelas 7 yang sepertinya ia beragama islam dengan kulit hitam dikuncir kuda yang menaiki sepeda. Setelah pengalaman itu aku dolan ke rumah lilian.

Dirumah Lilian,aku cuma sebentar disana. Lalu aku pergi dengan Lilian ke Kuil yang berada di puncak gunung dengan menggunakan motor. Aku sangat takut saat jalannya naik yang curam diGunung Dewa, Takut sekali kalau tak bisa menaiki jalan yang sangat curam tersebut. Setelah naik - naik gunung ahkirnya kami sampai juga dikuil raksasa yang menurutkku itu menyeramkan karena lokasinya berada di pinggir jurang. Karena hp Lilian tertinggal di motor,Ia pun kembali ke motor dan aku melanjudkan perjalanan ke kuil. Dikuil tersebut terdapat 1 guci besar yang berisi lahar (sepertinya) dan 6 guci besar disekelilingnya yang berisi lahar atau magma dan bola raksasa, bola itu kadang loncat keluar dari guci dan masuk lagi kedalam guci. Ternyata kuil itu adalah tempat wisata dan pintu masuknya sangat rendah, maka harus jongkok untuk masuk ke Kuil. Di sana cuma ada beberapa orang, yang aku herankan kenapa ada rumah didekat 7 guci raksasa tersebut (?). Dan pintu belakang kuil itu ada tanah di bagian bawah ketika kita membukanya, padahal tadi itu adalah jurang yang sangat dalam. Didalam pintu itu ada hutan lebat yang sangat indah dan aku ingin sekali tinggal dihutan tersebut, banyak sekali sungai yang masih bersih dan segar.

Tapi sayangnya mimpi terbagus ini buyar setelah dibangunkan mamahku jam 06.15 a.m. 

Selasa, 10 September 2013

Saturday, 5 October 2013

Rura Day's


Wah, hari ini melelahkan sekali
aku nggak ingin capek - capek latihan lagi, Soalnya aku udah bosan main di sana
Sekaran udah rasa - rasa
Badan tambah sakit!

Udah gitu di ganggu in sama orang nakal sih (-_- ) apa lagi disana ada musuh ku!!

Gila ya,masa aku nggak salah apa apa di jorokin (itu kan khayalanmu) Iya-ya itu cuma mimpi terburuk yang pernah aku temui! Gila (aku nggak gila ya) kamu aja yang merasa (oh ya?) ya dong (kamu kenapa sih whirur dari tadi kayanya bete banget) emang hari ini gue bete banget blacru (ada apa whi?) itu loh, musuh gue jahat amat! Udah ngerebut temen gue udah gitu sombong lagi! (namanya juga musuh) udah deh nggak mau liat2 kaya gitu lagi, semoga sma nanti gue akan pisah sama dia! (amin) Harus,soalnya kalau gini aku nggak bisa leluasa bergerak..

Thursday, 3 October 2013

Mau tau Peruntungan Shio kamu?


mau tau Peruntungan Shio kamu di tahun ini? Coba deh pilih tahun kelahiranmu...

User yang memiliki shio Naga, di tahun ini memiliki karakteristik:
Kekuatan, hasrat dan pengontrol. Nantikan tahun dengan kemajuan yang stabil dan sejumlah hasil kerja keras dari kegiatan yang dimulai dari tahun Tikus sebelumnya. Masalah-masalah di sekeliling seorang shio Naga tidak akan mempengaruhi mereka. Akan tetapi dibawah pengaruh dari tahun ini, seorang shio Naga harus kerja tidak boleh cuma bermimpi.

Itu tadi yang diatas punya Saya, Rura
Kamu..? Nih!

Kemampuan unik untuk diet berdasarkan zodiakmu!


Untuk User yang memiliki zodiak Scorpio, cara diet yang paling tepat adalah dengan :
Diet Ala Obat Tradicional China.
Berikut penjelasannya :
Karena obat tradisional China popular dan murah, buat kamu yang ingin mengeluaran memilih cara diet dengan obat tradisional China tidaklah salah.

Itu punyaku
Kalau Kamu?? nih Klik!

Kata-kata mutiara dan romantis hari ini


Berikut ini adalah kata-kata mutiara dan romantis hari ini spesial untuk User:
Selamat pagi nusantara.. Selamat berlibur.. Sampaikan salam kami untuk keluarga terkasih..

itu sih buat aku,
Untukmu?? Kalau mau kunjungin dong nih.. Klik!

Kata - Kata bijak dari tokoh anime


Dear Rura, berikut ini adalah Kata-kata Bijak Tokoh Anime spesial untukmu hari ini:
"Kata kata adalah pedang, jika salah menggunakannya akan mengubahnya menjadi senjata yang kejam! Gunakan secara bijaksana dgn merasakan perasaan org lain, seperti apa pun orang itu" (Detektif Conan)

Itu kata - kata bijak untuk ku
Untukmu..?
Mau? Klik disini

Date A Live Bab 2: Game Training Start Jilid 1

Bagian 1

—Sudah lama ya.

Di dalam kepalaku, berkumandang suara yang sepertinya pernah kudengar sebelumnya.

—Akhirnya, akhirnya kita bertemu lagi, ×××.

Suara yang penuh nostalgia, penuh kehangatan.

—Aku senang sekali, tapi, sebentar lagi saja. Tunggulah sebentar lagi saja.

Kau siapa, tanyaku, tapi tidak ada jawaban.

—Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku pasti tidak akan membuat kesalahan lagi. Karena itulah...

Di sana, suara misterius itu terputus.


[edit]
Bagian 2

“...Haa!”

Shidou tersadar,

“Uwahh!”

dan berteriak keras.

Yah tentu saja. Bagaimanapun juga, seorang wanita yang tidak dikenalnya sedang menahan kelopak matanya dengan jari-jarinya, selagi di matanya bersinar cahaya yang datang dari sesuatu yang kelihatannya adalah sebuah penlight[1] kecil.

“......nn? Sudah bangun.”

Wanita itu, anehnya dengan wajah yang mengantuk, berkata dengan suara yang monoton seperti melamun.

Dia sepertinya sedang memeriksa gerakan bola mata Shidou yang tak sadarkan diri, jadi wajahnya sangat dekat dengannya. Samar-samar ia dapat mencium bau wangi, mungkin bau shamponya.

“S, S-S-S-S-Siapa kau?”

“......nn, aah.”

Wanita itu, masih setengah melamun, bangkit berdiri, dengan ekspresi suram menyapu poninya ke samping.

Karena jarak yang cukup telah terbentuk di antara mereka, sekarang ia dapat melihat wanita itu sepenuhnya.

Dia memakai apa yang sepertinya adalah seragam militer, dan umurnya sekitar 20 tahun. Rambut acak-acakannya, mata yang dihiasi lingkaran-lingkaran hitam, dan boneka beruang yang dipenuhi bekas goresan yang entah kenapa melongok keluar dari kantung seragam militernya, merupakan ciri khasnya.

“......saya adalah Petugas Analisis di sini, Murasame Reine. Sayangnya, sang Petugas Medis sedang keluar. ......tapi jangan khawatir. Meskipun saya tidak punya lisensi perawat, setidaknya saya bisa menangani perawatan sederhana."

“...”

Mau tidak mau ia khawatir.

Karena, wanita yang dipanggil Reine ini jelas-jelas terlihat lebih tidak sehat dibanding Shidou.

Pada kenyataannya, sejak awal tadi, seakan-akan sedang membuat lingkaran kecil dengan kepalanya, tubuhnya terhuyung-huyung tidak tegak.

Shidou, sekarang dengan tubuhnya terangkat, teringat dengan apa yang Reine baru saja katakan.

"—di sini?"

Ia bertanya, sambil melihat sekelilingnya.

Shidou telah tertidur di sebuah pipe bed sederhana. Mengelilinginya adalah sebuah tirai putih yang berfungsi sebagai pemisah. Itu adalah sebuah ruangan yang mirip klinik sekolah.

Namun, langit-langitnya sedikit tidak pada tempatnya. Beberapa pipa polos dan kabel-kabel dapat terlihat.

“Di-dimana aku, tempat ini...”

“......ah, tempat ini adalah ruang medis <Fraxinus>. Kamu tak sadarkan diri jadi kami membawamu kesini.”

“<Fraxinus>...? Lalu aku tak sadarkan diri..., ah—”

Benar, Shidou telah terseret dalam pertarungan antara sang gadis misterius dan Origami, dan telah jatuh tak sadarkan diri.

“...um, uhm, boleh aku bertanya sesuatu? Terlalu banyak terjadi hal-hal yang tidak kumengerti...”

Shidou bertanya sambil menggaruk kepala.

Tetapi, Reine tidak merespon, dengan diam berbalik dari Shidou.

“Ah—Tunggu..."

“......ikuti saya. Ada seseorang yang ingin saya perkenalkan padamu. ...…saya tahu kamu punya banyak pertanyaan, namun saya tidak pandai dalam menjelaskan sesuatu. Kalau kamu mau penjelasan spesifik, kamu perlu bertanya kepada orang tersebut.”

Seraya berkata, dia membuka tirai. Di luar tirai terdapat ruangan yang sedikit lebih luas. Berderet sekitar enam tempat tidur, dan di bagian belakang ruangan terdapat beberapa peralatan medis yang asing.

Reine berbalik menuju apa yang nampaknya adalah pintu keluar, dan terhuyung-huyung mencapainya.

Dia kemudian tersandung, dan dengan bunyi *bong*, membenturkan kepalanya di dinding.

“! Ka-Kau tidak apa-apa?”

“......muuu.”

Dia tidak sampai jatuh. Reine merintih, lalu bersandar pada dinding.

“......aah, maaf. Akhir-akhir ini saya kurang tidur.”

“S-Sudah berapa lama sejak terakhir kali kau tidur?”

Shidou bertanya, dan Reine, setelah berpikir sejenak, mengangkat tiga jari.

“Tiga hari. Tentu saja kau akan mengantuk.”

“......mungkin sekitar tiga puluh tahun?”

“Satuannya terlalu jauh berbeda!”

Shidou bahkan sudah bersiap-siap kalau-kalau dia menjawab sekitar tiga minggu, tapi jawaban ini benar-benar tidak terduga.

Dan jelas-jelas itu melewati usianya dari yang terlihat.

“......uhm, memang benar kalau saya tidak bisa mengingat terakhir kali saya tidur. Saya punya semacam insomnia akut.”

“Be-begitukah...”

“......oh. Ahh, permisi, ini sudah waktunya saya minum obat.”

Reine tiba-tiba mencari-cari di sakunya, dan menarik sebuah toples tablet.

Dia lalu membuka toplesnya, dan menuangkan tablet-tablet itu ke mulutnya seolah meminumnya.

“Hey!”

Tanpa keraguan sedikitpun, sejumlah besar tablet di mulut Reine kemudian *gruk gruk gruk glek*, dan mereka berdua tanpa sadar memulai sebuah adegan komedi.

“......ada apa, kamu berisik.”

“Berapa banyak yang kau makan! Dan lagipula, obat apa itu!?”

“......semuanya pil tidur.”

“Kau bisa mati! Leluconmu tidak lucu!”

“......lagipula obat-obat itu tidak terlalu ampuh juga.”

“Tubuh macam apa yang kau punya!”

“......yah rasanya manis dan enak jadi tidak apa-apa.”

“Kau pikir itu Ramune[2]!?”

Setelah laga sahut-menyahut tersebut, Shidou menghela nafas dalam-dalam.

“......bagaimanapun juga, kemarilah. Ikuti saya.”

Reine mengembalikan toples kosong tersebut ke sakunya, dan sekali lagi mulai berjalan dengan langkah-langkah berbahaya, membuka pintu ruang medis.

“...”

Shidou terburu-buru memakai sepatunya, dan meninggalkan ruangan untuk mengejarnya.

“Apa-apaan ini...”

Diluar ruangan, adalah sebuah konstruksi menyerupai koridor sempit.

Dinding dan lantai berwarna pucat dengan gaya mekanis itu entah kenapa membuat Shidou teringat akan bagian dalam kapal tempur luar angkasa yang muncul di opera-opera antariksa, atau koridor kapal selam dari film-film.

“... apa yang sebenarnya sedang kulakukan?”

Shidou, sudah tidak tahu lagi ini dan itu, perlahan-lahan mulai menggerakan kakinya.

Hanya mengandalkan punggung Reine yang berjalan sempoyongan dengan langkah-langkah yang tidak kokoh, di koridor yang mirip latar film tersebut, bergema bunyi langkah kaki.

Setelah berjalan beberapa lama.

“......di sini.”

Pada akhir perjalanan, di depan pintu dengan panel elektronik kecil di sampingnya, Reine berhenti seraya berkata.

Pada momen berikutnya, panel elektronik itu mengeluarkan bunyi ‘bip’ pelan, dan pintu tersebut dengan mulus bergeser terbuka.

“......di sini, silahkan masuk.”

Reine melangkah kedalam. Shidou mengikuti di belakangnya.

“...ini...”

Ia melihat pemandangan yang ada di sisi lain pintu tersebut.

Untuk menjelaskannya dengan kalimat sederhana, itu adalah sebuah tempat seperti bridge kapal. Di depan pintu yang baru saja dilewati Shidou, terhampar lantai dengan bentuk setengah oval, dan berada di tengahnya sebuah kursi yang sepertinya adalah kursi kapten.

Tambah lagi, mengikuti tangga-tangga di kedua sisinya yang melandai turun ke lantai yang lebih rendah, dimana para anggota crew terlihat sedang mengoperasikan beberapa console yang terlihat rumit. Ruangan itu redup secara keseluruhan, dan monitor yang tersebar di sini-situ memancarkan cahaya yang secara paksa menunjukkan keberadaan mereka.

“......saya membawanya ke sini.”

Reine yang seakan pusing mengayunkan kepalanya selagi berbicara.

“Kerja yang bagus.”

Lelaki tinggi yang berdiri di samping kursi kapten menunduk pelan seperti seorang butler. Dia memiliki rambut bergelombang dan hidung yang tidak terlihat seperti seorang Jepang. Dia seperti lelaki muda dengan tampang yang sepertinya bisa muncul di novel-novel BL.

“Salam kenal, Saya adalah Wakil Komandan di sini, Kannazuki Kyouhei. Senang bertemu denganmu.”

“I-Iya...”

Sambil menggaruk-garuk pipinya, ia menunduk ringan dengan kepalanya.

Untuk sesaat, Shidou sangka Reine tadinya berbicara dengan lelaki ini.

Akan tetapi—ia salah mengira.

“Komandan, Petugas Analisis Murasame telah kembali.”

Kannazuki memanggil, dan dari kursi kapten yang punggungnya sedang membelakangi mereka, terdengar suara memberengut, sementara kursi tersebut berputar balik.

Dan kemudian.


“—Aku menyambutmu. Selamat datang, di <Ratatoskr>.”

Suara seseorang yang disebut ‘komandan’ tersebut terdengar terlalu menawan, dan disaat figur gadis muda yang memakai seragam militer merah menyala di bahunya terlihat jelas.

Rambutnya terikat 2 pita hitam besar. Dia memiliki perawakan yang kecil, mata bundar seperti biji ek, dan Chupa Chups di mulutnya.

Shidou mengernyit. Karena, bagaimanapun juga kau melihatnya—

“...Kotori?”

Benar, tidak peduli jika kau mengamati wajahnya, atau suaranya, atau aura yang mengelilinginya, meskipun ada beberapa perbedaan, gadis itu tidak diragukan lagi adalah imouto Shidou yang manis, Itsuka Kotori.


[edit]
Bagian 3

“—Itsuka, Shidou.”

Saat bergumam dengan suara pelan sehingga tidak seorangpun dapat mendengarnya, wajahnya muncul di benak Origami.

Tidak salah lagi, dia adalah anak pada waktu itu. Tidak mungkin ingatan Origami salah.

Sedikit mengecewakan, tapi mereka hanya pernah bertemu satu kali itu saja, jadi tak bisa disalahkan kalau dia tidak mengingat Origami. Sejak memasuki SMA ia sudah mencoba berbagai cara untuk mendekatinya, namun semuanya berakhir dengan kegagalan.

Dan sekarang, bahkan ada persoalan yang lebih menggelisahkan.

“Kenapa, dia ada di tempat seperti itu?”

Ia tidak dapat mengerti mengapa dia keluar ke jalanan setelah peringatan spacequake telah dibunyikan.

Tambah lagi—dia pastinya telah melihatnya.

Origami, dengan perlengkapan khususnya—dan Spirit itu.

"Sersan Kepala Tobiichi, persiapan telah selesai!”

“...”

Karena suara teknisi yang tiba-tiba tersebut, wajah Origami yang menatap ke bawah tersentak ke atas.

Ia lalu dengan segera memusatkan pikirannya pada sebuah perintah.

Perintah tersebut mengarungi wiring suit yang menyelimuti tubuh Origami, sampai pada thruster parts di punggungnya, dan mengaktifkan Realizer yang tertanam.

Berbalut perlengkapan yang bentuknya tidak terlihat cocok untuk terbang itu, tubuh Origami sedikit melayang di udara.

Angkatan Darat Bela Diri Jepang[3] - Pangkalan Tenguu.

Dalam hangar[4] yang ditempatkan di salah satu sudutnya, sambil mengikuti instruksi teknisi tersebut Origami mendarat di dock pribadinya seperti sedang duduk, mengembalikan senjata-senjatanya ke tempatnya, dan terakhir, sambil menarik nafas dalam-dalam, mematikan semua Realizer-nya.

Bersamaan dengan itu, bobot perlengkapan dan tekanan yang tidak ia rasakan sesaat yang lalu, semua terhempas ke tubuhnya sekaligus.

Terdengar suara mesin yang menyala di belakangnya, dan thrusters yang dibawanya terlepas.

Namun, sampai sekitar tiga menit kemudian, baru Origami dapat beranjak dari tempat itu.

Hal ini selalu terjadi setelah menggunakan CR-Unit. Kembali dari seorang superhuman menjadi orang biasa, tubuh akan terasa luar biasa berat.

Combat Realizer Unit. Biasa disebut CR-Unit

Itu adalah nama yang diberikan pada perlengkapan taktis yang menggunakan teknologi ajaib, Realizer, yang diperoleh manusia setelah spacequake besar tiga puluh tahun lalu.

Dengan mengambil hasil kalkulasi komputer, dan memutarbalikkan hukum-hukum Fisika, kemudian memanifestasikannya di dunia nyata.

Singkatnya, meskipun ada beberapa batasan, ini adalah teknologi yang mengubah imajinasi menjadi kenyataan. Disebut-sebut sebagai sistem yang menghasilkan ‘sihir’ melalui cara ilmiah.

Pada saat yang sama, ini adalah satu-satunya cara bagi manusia untuk bertempur melawan Spirit.

“Buka jalan! Tandu lewat!”

Sebuah sahutan terdengar dari arah kanan.

Menggerakkan hanya matanya, Origami melihat seorang anggota squad yang terbalut wiring suit yang sama dengannya di atas tandu tersebut.

“... sial, sial, gadis itu...! Sumpah, akan kubunuh dia...!”

Anggota squad di tandu tersebut sedang menahan sebuah perban berembesan darah di kepalanya dan mencaci-maki dengan kesal saat dia dibawa pergi.

“...”

Sepertinya tidak ada masalah kalau dia bisa mengumpat dengan gencar seperti itu. Kehilangan ketertarikannya, Origami memindahkan tatapannya kembali.

Kenyataannya, kalau pengobatan dilakukan menggunakan Realizer medis, selama itu bukan luka yang benar-benar serius, luka tersebut dapat dipulihkan seketika. Ketika Origami mematahkan kakinya sebelumnya, sehari setelahnya ia sudah bisa berjalan lagi.

“——”

Sambil menarik napas panjang, Origami melirik sedikit ke atas.

Ia mengingat kembali pertarungan hari ini.

—Malapetaka yang akan menghancurkan dunia, Spirit.

Keabnormalan yang membuat bahkan kelompok superhuman seperti Origami tidak dapat berharap untuk menyentuhnya.

Muncul entah dari mana, menghamburkan kehancuran tanpa alasan, monster yang setingkat dengan bencana alam.

“...”

Pada akhirnya, pertarungan hari ini berakhir dengan Lost
menghilangnya sang Spirit, meskipun lebih kelihatan seolah Spirit tersebut yang
memutuskan untuk menutup tirai.

Lost bukan berarti Spirit itu sudah tewas.

Makna sebenarnya adalah Spirit tersebut meloloskan diri melalui dimensi lain.

Meskipun tercatat seolah tindakan AST-lah yang mengusir Spirit, Origami serta semua anggota yang terlibat langsung dalam pertarungan tahu.

Sang Spirit tidak merasakan ancaman sedikitpun dari mereka, dan ketika sang Spirit lost, itu murni karena kemauannya saja.

“… tsk.”

Ekspresinya tidak berubah sama sekali.

Namun, Origami menggigit keras gigi belakangnya.

“Origami”

Suara yang datang dari dalam hangar memecah pemikiran Origami.

“...”

Tanpa bersuara, ia berbalik menghadap suara tersebut. Tubuhnya mungkin masih belum terbiasa, karena kepalanya terasa sangat berat.

Basic realizer yang terpasang pada wiring suit, sekali dinyalakan, dapat memperluas territory seseorang sampai beberapa meter di sekitarnya.

Territory ini adalah esensi dari CR-Unit. Seperti yang namanya nyatakan, itu adalah ruang di mana angan-angan sang pengguna dapat menjadi kenyataan.

Territory mempunyai kemampuan untuk memperingan benturan dari luar, bahkan juga membuat gravitasi di dalam dapat diatur semaunya. Selama territory ini terbentang, para anggota AST dapat menjadi manusia super.

Karena itu sebagai gantinya, untuk sementara waktu setelah menggunakan CR-Unit, sulit untuk menggerakan tubuh dengan bebas.

“Kerja yang bagus.”

Di sana, memakai wiring suit yang sama dengan Origami, berdiri seorang wanita yang sedang pada pertengahan usia 20-annya dengan tangan di pinggang.


Kapten Kusakabe Ryouko. Perwira yang mengepalai AST di mana Origami berada.

“Kau benar-benar hebat mengusir Spirit itu sendirian. ...tadi aku mengomeli Tomonara dan Kagaya habis-habisan. Apa coba yang mereka pikirkan, kabur dan menyerahkan Spirit itu pada Origami seorang diri.”

“Saya tidak mengusirnya.”

Origami menjawab. Ryouko mengangkat bahu.

“Yah, aku akan melaporkannya seperti itu pada atasan. Kalau kita tidak menunjukan hasil sedikitpun pendapatan kita akan berkurang.”

“...”

"Ayolah, jangan memasang wajah seperti itu. Aku memujimu kok. Pada situasi ini, di mana bangku ace masih kosong, kau melakukan usaha yang bagus. Lagipula, kalau kau tidak ada disana, jumlah orang yang akan tewas bukan hanya satu atau dua.”

Fuuuu, dia menghela nafas.

“Tapi hey,”

Ryouko menajamkan mata, menggenggam kepala Origami dan memutarnya ke arahnya.

“Kau sedikit kelewatan.—Kau benar-benar mau mati ya?”

“...”

Pandangan tajamnya masih terfokus pada Origami seraya Ryouko melanjutkan.

“Kau ini, mengerti atau tidak lawan seperti apa yang kau hadapi? Yang benar saja, dia itu monster. Badai topan yang punya otak.—mengerti? Sebisamu, cegah kerusakan sampai seminimal mungkin, semampumu, buat dia lost secepat mungkin. Itulah tugas kita. Jangan melompat ke dalam bahaya dengan sia-sia.”

“—salah.”

Origami menjawab sambil menatap Ryouko tepat di matanya, dan sekali lagi membuka bibirnya sedikit.

“Untuk mengalahkan para Spirit, itu adalah tugas AST.”

“...”

Ryouko memberengut.

Sebagai kapten AST, dia seharusnya mengerti nama Anti Spirit Team lebih dari pada Origami.

Karena dia mengerti, dia menyatakan hal itu.

—Kita tidak bisa berbuat lebih dari mencegah kerusakan.

Namun, meskipun ia mengerti akan hal itu, Origami mengulanginya lagi.

“—Saya akan, mengalahkan para Spirit."

“...”

Ryouko menghela nafas, dan melepas tangannya dari kepala Origami.

“... aku tidak berencana untuk mendengar pemikiranmu pribadi. Berpikirlah sesukamu.—Tapi, kalau kau sampai terlihat akan melawan perintah ketika berada di medan perang, kau akan dikeluarkan dari team.”

"Dimengerti."

Origami memberi jawaban pendek, bangkit dengan tubuhnya yang akhirnya sudah terbiasa, dan berjalan pergi.


[edit]
Bagian 4

“—Jadi, yang di sini adalah monster yang kami sebut Spirit, dan yang ini adalah AST. Mereka adalah Anti Spirit Team dari Angkatan Darat Bela Diri Jepang. Kau sudah melibatkan diri ke situasi yang cukup mengkhawatirkan, tahu? Kalau kami tidak menjemputmu, kau mungkin sudah mati dua atau tiga kali. Jadi, menuju hal berikutnya—”

"Se-sebentar!"

Shidou mengeraskan suaranya, mencoba menahan Kotori yang telah memulai penjelasan kilatnya.

“Ada apa? Setelah semua kerepotan yang komandan ini lalui untuk memberikan penjelasan langsung padamu. Kalau kau mau menangis, lakukanlah dengan sedikit lebih terhormat. Karena sudah seperti ini, aku setidaknya dapat memberikanmu perlakuan spesial untuk menjilat bawah kakiku.”

Sedikit mengangkat dagunya, dengan tatapan yang sepertinya merendahkan Shidou, sungai dampratan yang tidak-seperti-Kotori mengalir keluar dari mulutnya.

“Be-benarkah!?”

Suara penuh kegembiraan tersebut datang dari yang berdiri di samping Kotori, Kannazuki. Kotori langsung menjawab “bukan kau” dan menyikut ulu hatinya.

“Gah...!”

Menonton perbincangan tersebut, Shidou membuka mulutnya dalam keterkejutan.

“...Ko-Kotori... Itu kau? Kau baik-baik saja?”

“Ara, apa kau lupa wajah adikmu sendiri, Shidou? Aku tahu kau payah dalam mengingat, tapi aku tidak sampai mengira akan separah ini. Mungkin ide bagus untuk memesan tempat di rumah pensiunan sekarang juga.”

Setitik peluh mengaliri wajah Shidou.

Ia mencubit pipinya. Sakit.

Imouto Shidou yang cantik tidak seharusnya berhenti memanggilnya ‘onii-chan’.

Menggaruk belakang kepalanya, Shidou berbicara dengan suara kebingungan.

“...entah kenapa, aku sangat bingung seolah-olah isi kepalaku sudah menjadi Crocodile Panic[5]. Apa yang sebenarnya terjadi? Selain itu, di mana aku? Siapa orang-orang ini? Dan juga—”

Kotori, mengangguk “oke, oke”, mengangkat telapak tangannya dan menghentikan Shidou.

“Tenanglah. Kalau aku tidak bisa mengerti apa yang kau katakan, bagaimana bisa aku menjawabnya.”

Sambil mengatakan ini, Kotori menunjuk layar di bridge.

Di sana, gadis berambut hitam yang Shidou temui sebelumnya, juga orang-orang berbalut armor mekanik, sedang ditampilkan.

“Uhmm... kau bilang... Spirit?”

Shidou bertanya sambil menggaruk pipinya. Ia mengingat kata yang Kotori gunakan di penjelasannya sebelumnya.

Muncul begitu saja di dunia, monster yang tak dikenal asal-usulnya.

“Ya. Dia adalah makhluk yang aslinya tidak berasal dari dunia ini. Hanya dengan muncul di dunia ini saja, tanpa kemauannya atau semacam itu, daerah sekitarnya akan tersapu habis.”

Dengan suara bang, Kotori menyatukan kedua tangannya, kemudian membukanya, menggambarkan sebuah ledakan.

Shidou menggerenyit, tangannya masih berada di pipinya.

“...maaf, hal ini sedikit terlalu luas jadi sulit aku mengertinya.”

Mendengar ini, Kotori mengangkat bahunya, “kau masih belum mengerti setelah semua ini?”, dan mengeluh.

“Apa yang kubicarakan adalah spacequake, atau lebih tepatnya fenomena yang kita sebut demikian, adalah buah dari kedatangan Spirit seperti gadis tersebut di dunia kita.”

“Ap...”

Shidou tanpa sadar mengernyitkan alisnya.

Gempa di ruang terbuka. Spacequake.

Fenomena yang sangat tidak masuk akal yang menggerogoti kehidupan manusia, menggerogoti dunia.

Dan alasan dibaliknya, adalah karena gadis itu—?

“Yah... skala kehancurannya bervariasi. Bisa sebatas beberapa meter saja, atau bisa sebesar—kira-kira sampai taraf membuat lubang raksasa di benua.”

Kotori membuat lingkaran besar dengan tangannya.

Dia mungkin sedang berbicara mengenai spacequake pertama tiga puluh tahun lalu—yang dikenal dengan sebutan Bencana Langit Eurasia.

“Keberuntungan sedang ada di sisimu, Shidou. Kalau saja skala ledakan kali ini sedikit lebih besar, kau mungkin sudah terhempas seketika.”

“...”

Seperti yang dia katakan. Bahkan sekarang, tubuh Shidou meringkuk ketakutan.

Melihat Shidou seperti ini, Kotori setengah memejamkan matanya.

“Dan lagipula, kenapa juga kau pergi keluar ketika peringatannya sedang berbunyi? Kau idiot ya? Kau mau mati?”

“Bukan bukan itu... itu karena kau, lihat ini.”

Shidou menarik handphone-nya keluar dari saku, dan menunjukkan data posisi Kotori. Seperti yang dikiranya, ikon Kotori berhenti di depan restoran keluarga.

“Hm? Ahh, itu.”

Namun, Kotori mengambil handphone-nya sendiri keluar dari sakunya.

“Ahh...? Kenapa kau membawa, itu.”

Shidou melihat bolak-balik antara layar handphone-nya dan handphone yang Kotori pegang tepat di depan matanya. Karena Kotori berada di tempat ini, ia yakin sepenuhnya kalau dia telah menjatuhkan handphone-nya di depan restoran keluarga.

Kotori mengangkat bahunya, dan melepas keluhan panjang.

“Aku sudah bertanya-tanya kenapa kau pergi keluar ketika peringatan sedang berbunyi, jadi ini alasannya. Kau pikir aku ini sebego apa, dasar kakak bodoh.”

“Ta-tapi... ehh, kenapa ini—”

“Sederhana saja. Alasannya karena kita sekarang ini ada di depan restoran keluarga itu.”

“Huh...?”

“Baiklah. Kurasa lebih cepat kalau aku menunjukannya padamu.—Matikan filternya.”

Mengikuti perintah Kotori, bridge yang redup itu seketika menjadi terang.

Namun, sebenarnya bukan lampunya yang dinyalakan. Lebih tepatnya, sepertinya sebuah tirai yang mengkubahi langit-langit tiba-tiba dilepas.

Nyatanya, langit biru terbentang di sekeliling mereka.

“Ap-Apa ini...”

“Tolonglah jangan ribut-ribut. Pemandangan di luar adalah seperti yang kau lihat.”

“Pemandangan diluar adalah... ini.”

“Mhmm. Di mana kita sekarang ini berada adalah 15000 meter di atas Kota Tenguu. Menurut lokasi, tanpa sengaja ini berakhir tepat di sekitar restoran keluarga tempat kita berencana untuk bertemu.”

“Di mana kita, berada...”

“Yup. <Fraxinus> ini adalah pesawat udara.”

Seraya melipat tangannya, Kotori menyeringai *fufun*. Dia terlihat seperti anak kecil yang membanggakan mainan favoritnya. Tidak—kalaupun begitu, mungkin lebih mirip dengan seorang ibu yang sedang memperkenalkan anaknya yang diasuh dengan penuh kesabaran.

“Pe-pesawat...? Apa-apaan itu. Kenapa kau ada di dalam benda seperti itu?”

“Karena itulah, bukankah aku sudah bilang dengarkan penjelasanku secara berurutan? Bahkan ayam saja bisa mengingat sampai tiga langkah[6].”

“Uuuu...”

“...tapi, tak habis pikir kalau tempat ini sampai bisa ditemukan pencari jejak handphone, kita benar-benar tidak memperhatikan hal itu. Kita melengahkan pertahanan setelah menambahkan Invisible dan Avoid menggunakan Realizer. Kita harus memikirkan penanggulangannya nanti.”

Sambil menggumamkan kata-kata yang Shidou tidak mengerti, Kotori menempatkan tangan di dagunya.

“A-apa yang kau bicarakan?”

“Ahh, jangan khawatirkan itu. Aku tidak mengharapkanmu untuk mengerti itu lagipula, Shidou. Bagaimanapun juga, kau punya otak yang bahkan kalah dengan kepiting bulu jika dihargai per-gramnya.”

“...”

“Komandan. Miso kepiting tidak terbuat dari otak melainkan usus.”

Setetes keringat mengaliri wajah Shidou saat Kannazuki mengatakan itu dengan suara yang mantap.

“...”

Kotori menggerakan jari-jarinya, memberi isyarat padanya untuk mendekat, dan Kannazuki menunduk ringan.

Dan kemudian, *pa*, stik lolipop yang sudah habis ditusukkan ke matanya.

“Nuaaaaghh!”

Sambil mencengkeram matanya, Kannazuki terguling kebelakang.

“K-kau baik-baik saja?!”

Dia tidak kelihatan seperti sedang berakting. Shidou mengeraskan suaranya karena khawatir.

Namun, tepat saat ia bermaksud untuk berlari mendekat, ia menghentikan kakinya.

Kannazuki, yang terjatuh ke lantai, menarik sapu tangan dari dalam sakunya, dan dengan ekspresi bahagia, dengan tenang membungkuskannya ke stik lolipop yang baru saja Kotori tusukkan padanya.

“Maaf, apa saya membuatmu khawatir? Tidak apa-apa, ini adalah penghargaan dalam bidang pekerjaan kami!”

Sambil mengatakan ini, Kannazuki segera bangkit, berdiri tegak sempurna.

Bidang pekerjaan macam apa itu, Shidou tidak mau mengetahui lebih dalam detilnya.

“Kannazuki.”

“Siap.”

Kotori mengangkat dua jari, dan Kannazuki mengambil dan mengulurkan dua permen pengganti padanya.

“Nah, kembali ke topik. AST. Itu adalah satuan yang berspesialisasi dalam bidang Spirit.”

Sembari berbicara, Kotori menunjuk sekelompok orang yang ditunjukkan di layar.

“... satuan yang berspesialisasi dalam bidang Spirit... apa spesifiknya yang mereka lakukan?”

Mendengar pertanyaan Shidou, Kotori mengangkat alisnya seakan jawabannya sudah jelas.

“Sederhana. Kalau Spirit muncul, maka mereka akan datang terbang dan menanganinya.”

“Menanganinya...?”

“Intinya, memusnahkannya.”

“...!”

Sebenarnya apa yang Kotori katakan tidak membuatnya terkejut.

Hanya saja—Shidou diserang oleh sebuah sensasi seakan hatinya sedang diremas.

“M-memusnahkan...?”

“Yup.”

Acuh tak acuh, Kotori mengangguk.

Shidou menelan ludah. Suara detak jantungnya sangat kencang.

Ia sudah mengerti apa yang mereka bicarakan. Spirit. Dia memang keberadaan yang membahayakan.

Tapi—tak peduli apapun, sampai sejauh itu, membunuhnya.

Tiba-tiba, Shidou melihat wajah gadis itu dibenaknya.


(—Lagipula, bukannya kau datang untuk membunuhku juga?)


Makna dibalik kata-kata yang diucapkan gadis itu, ia akhirnya mengerti.

Begitu juga dengan makna dari wajah yang terlihat seakan air mata akan membanjir keluar darinya pada saat kapanpun.

“Yah, kalau kau melihatnya dengan cara biasa, kalau dia mati mungkin itulah yang terbaik untuk kita.”

Nampaknya tanpa emosi tertentu, Kotori berbicara.

“Ke-Kena...pa?”

“Kenapa, kau bertanya?”

Dengan ekspresi meringis, Shidou bertanya seperti sedang mengeluh, dan Kotori dengan wajah bijaksana menempatkan tangannya di dagu.

“Tak ada yang aneh dengan itu kan? Dia itu monster. Hanya dengan muncul di dunia ini dia menyebabkan spacequake. Dia adalah racun paling jahat dan paling mematikan!”

“Tapi, bukannya kau sudah bilang sebelumnya? Kalau spacequake tidak ada urusannya dengan keinginan Spirit.”

“Itu benar. Setidaknya, sudah diyakini secara luas kalau ledakan dari pertama kali memasuki dunia ini tidak ada relasinya dengan keinginan Spirit itu sendiri.—Tapi, sudah ada bekas-bekas kehancuran dan korban spacequake dari hasil pertarungan dengan AST setelahnya.”

“... tapi bukannya itu karena orang-orang dari AST itu yang menyerangnya?”

“Yah, bisa begitu juga. —Namun, itu tidak lebih dari sekadar dugaan saja. Bisa juga, seandainya AST tidak melakukan apa-apa, sang Spirit dengan senang hati memulai aktivitas destruktifnya.”

“Itu... mungkin tidak akan terjadi.”

Kotori memiringkan kepala keheranan mendengar pendapat Shidou.

“Apa buktimu?”

“Seseorang yang menghancurkan jalanan untuk bersenang-senang... tidak mungkin dapat membuat wajah seperti itu.”

Hal seperti ini mungkin terlalu samar dan lemah untuk dikatakan sebuah bukti namun... entah kenapa, Shidou mempercayai itu dari lubuk hatinya.

“Jadi itu mungkin bukan berdasarkan keinginan mereka kan? Tapi tetap saja—”

“Baik mereka menyebabkannya dengan sengaja atau tidak bukanlah masalahnya. Bagaimanapun juga, kenyataannya sang Spirit-lah yang menyebabkan spacequake tersebut. Bukannya aku tidak mengerti yang kau maksud, tapi kau tidak mungkin membiarkan keberadaan berbahaya yang se-level bom nuklir itu begitu saja hanya karena kau kasihan padanya. Hari ini memang berakhir dengan ledakan kecil saja, tapi kita tidak bisa yakin kalau yang berikutnya bukan bencana level Eurasia.”

“Tetap saja... membunuhnya...”

Shidou dengan keras kepala membantah, dan, menggumamkan “ya ampun”, Kotori mengangkat bahu.

“Kalian baru saja bertemu selama beberapa menit, dan tambah lagi dia adalah seseorang yang hampir membunuhmu, tapi kau masih membelanya. …masakah, kau jatuh hati padanya?”

“B-bukan. Aku hanya berpikir kalau misalnya ada jalan lain.”

“Jalan lain ya, huh.”

Mendengar kata-kata Shidou, Kotori melepas desahan panjang.

“Kalau begitu coba kita dengar, apa ada jalan lain yang kau pikirkan?”

“Itu—”

Kata-katanya berhenti.

Dalam pikirannya, ia sudah mengerti sepenuhnya apa yang telah Kotori ucapkan.

Makhluk menyimpang yang meninggalkan kerusakan mendalam pada dunia hanya dengan kemunculannya—Spirit.

Keberadaan seperti dirinya harus dimusnahkan secepat mungkin.

Namun, hanya untuk sekilas.

Shidou telah menyaksikannya. Wajah sang gadis, yang kelihatannya tangisan akan segera terlimpah keluar darinya.

Shidou telah mendengarnya. Suara sang gadis, penuh kesedihan.

—Ahh, ini semua salah, itulah yang ia pikirkan.

“...bagaimanapun juga.”

Dari mulut Shidou, kata-kata mulai mengalir secara natural.

“Kalau... kita tidak berbicara baik-baik dengannya sekali saja... kita tidak akan tahu.”

Rasa takut menghadapi kematian di muka pada saat itu masih terukir di kedalaman tubuhnya.

Jujur saja itu adalah rasa takut yang membuat seseorang ingin lari.

Akan tetapi, Shidou tidak bisa meninggalkan gadis itu begini saja.

Karena dia—sama seperti Shidou.

Mendengar kata-kata Shidou, bibir Kotori membusur membentuk senyum nakal.

Seolah dia sedang berkata “Aku sudah menunggu kata-kata itu”.

“Begitu ya. —Kalau begitu, biarkan aku membantumu.”

“Huh...?”

Saat mulut Shidou menganga terbuka, Kotori membentangkan lengannya lebar-lebar.

Reine, dan Kannazuki, dan seluruh crew di bawah, dan juga pesawat udara ini—<Fraxinus>, sepertinya dia sedang menunjukkan semua ini.

“Aku bilang, kami akan mendukungmu untuk hal tersebut. Seluruh kekuatan <Ratatoskr> akan digunakan untuk mendukung Shidou.”

Dengan gerakan yang elegan, Kotori menaruh jari-jari di lututnya.

“Ap-Apa yang kau bicarakan. Aku tidak—”

“Biarkan aku menjawab pertanyaan pertamamu. Mengenai siapa kami.”

Seperti ingin mencela pertanyaan Shidou, Kotori mengeraskan suaranya.

“Oke? Jalan untuk menangani seorang Spirit pada dasarnya terbagi menjadi dua metode utama.”

“Dua...?”

Shidou bertanya, Kotori mengangguk dalam-dalam, dan kemudian mengangkat jari telunjuknya.

“Yang pertama, adalah penanganan yang diambil AST. Metode pemusnahan melalui adu kekuatan.”

Mengikutinya, jari tengahnya juga ikut naik.

“Yang satu lagi... menggunakan metode percakapan dengan para Spirit. —Kami adalah <Ratatoskr>. Kami adalah sebuah organisasi yang dibentuk dengan tujuan menangani spacequake tanpa membunuh para Spirit, melalui percakapan.

“...”

Shidou mengernyitkan alisnya sambil berpikir. Mengenai apa sebenarnya organisasi ini, dan mengapa Kotori ambil bagian dalam organisasi seperti itu, ada banyak pertanyaan dalam benaknya, tapi—untuk sekarang, ia menanyakan apa yang paling ditanya-tanyakan dalam pikirannya.

“... lalu, kenapa organisasi seperti itu akan mendukungku?”

“Kau punya dasar pemikiran yang salah. Pada dasarnya, organisasi yang disebut <Ratatoskr> ini adalah organisasi yang dibentuk untuk Shidou.”

“Ha, haaaa...!?”

Shidou mengalami kesulitan yang mencengangkan dalam berekspresi, dan berkata dengan suara histeris.

“Sebentar. Sekarang aku lebih bingung lagi dari sebelumnya. Untukku?”

“Ya. —yah, mungkin lebih tepat dibilang kalau ini adalah organisasi untuk mendirikan pondasi bagi peran Shidou dalam bernegosiasi dengan Spirit dengan tujuan menyelesaikan masalah para Spirit. Bagaimanapun juga, ini adalah organisasi yang tidak akan ada jika Shidou tidak ada.”

“Tu-tunggu. Apa maksudmu? Apa semua orang ini dikumpulkan untuk alasan itu? Atau lebih penting lagi, kenapa aku!”

Shidou bertanya, dan sambil memutar-balikan permen di mulutnya, Kotori bergumam.

“Mm, yah, Shidou itu spesial.”

“Itu bukan penjelasaaaaaaaaan!”

Tidak tahan lagi, ia berteriak.

Namun Kotori tersenyum menantang, dan membuat gerakan mengangkat bahu.

“Yah, kau akan mengerti alasannya seiring waktu. Bukankah ini bagus? Aku bilang kalau kami, seluruh anggota dan semua teknologi kami, akan mendukung tindakanmu. Atau—apa kau berencana untuk berdiri di tengah-tengah Spirit dan AST tanpa persiapan sendirian? Kau akan mati, pastinya.”

Kotori menyipitkan matanya dan berbicara dengan suara dingin. Tanpa sadar, Shidou menahan nafas.

Benar yang dikatakan Kotori. Shidou hanya melantunkan idealisme dan harapannya, tapi tidak memiliki kemampuan apapun untuk membuatnya menjadi kenyataan.

Banyak sekali hal-hal yang ingin ia katakan sampai-sampai semuanya bisa membanjir dari dalam tenggorokannya, tapi ia entah bagaimana dapat menahannya, dan menanyakan hanya apa yang akan membuat laju pembicaraan maju.

“... jadi untuk itu, metode percakapan, apa saja intinya yang perlu dilakukan?”

Senyum tipis terbersit di wajah Kotori.

“Mengenai itu.”

Dia kemudian menempatkan tangannya di dagu.

“Buat Spirit itu—jatuh cinta.”

Sambil menyeringai, dia dengan bangga mengatakan itu.

......

Setelah agak lama.

“...ha?”

Setetes keringat menuruni wajah Shidou saat ia memberengut.

“... maaf, aku tidak sepenuhnya paham.”

“Seperti yang kukatakan, berteman dengannya, bicara dengannya, goda dia, kencani dia, dan buat dia tergila-gila karena cinta.”

Mendengar Kotori mengatakan ini seakan sudah biasa, Shidou membenamkan kepalanya di tangannya.

“...uhm, dan kenapa hal itu dapat menyelesaikan problem spacequake?”

Kotori menaruh satu jari di dagunya dan dengan “mmmm” membuat postur berpikir.

“Kalau kita menginginkan sebuah solusi untuk spacequake tanpa menggunakan kekerasan, maka kita perlu membujuk Spirit tersebut kan?”

“Kelihatannya benar.”

“Untuk itu, bukankah lebih cepat untuk membuat Spirit itu menyukai dunia ini? Oh, dunia ini sangat menakjubkan~, kalau mereka seperti itu, maka bahkan seorang Spirit-pun tidak akan mengamuk begitu saja.”

“Begitu ya.”

“Lalu, yah, bukankah sering dikatakan? Kalau kau sedang jatuh cinta maka seluruh dunia akan terlihat indah. —Karena itu, kencani dia, dan buat Spirit itu jatuh hati padamu!”

“Tidak, ada yang salah dengan logikamu.”

Jelas sekali kalau logikanya sudah di luar jendela. Ketika cucuran keringat membanjiri wajah Shidou, ia berkomentar.

“A-Aku tidak bisa menjalani hal semacam itu...”

“Diam kau fried chicken.”

Shidou mencoba menyuarakan komplain, namun Kotori menutupinya dengan suara kuat yang tidak memperbolehkan pilihan untuknya.

“Aku tidak akan membiarkan AST untuk membunuh para Spirit~, pasti ada jalan lain~, tapi aku tidak suka cara <Ratatoskr>~...? Kalau kau ingin bersikap naif setidaknya jangan berlebihan kau kumbang bombardier. Apa yang dapat kau lakukan sendirian? Ketahuilah kemampuanmu sendiri.”

“Ugghh...”

“—Aku tidak perlu persetujuan dari dasar perutmu. Tapi, kalau kau tidak mau membunuh para Spirit... maka kau tidak punya ruang untuk memilih metodenya.”

Entah mengapa, senyum jahat terbersit di wajah Kotori.

Kenyataannya, memang benar yang dikatakannya.

Tanpa kekuatan atau dukungan, bahkan jika Shidou ingin berbicara dengan gadis Spirit itu sekali lagi saja, hal itu tidak akan jadi kenyataan.

Metode AST sudah di luar pertanyaan—bahkan grup Kotori mungkin ingin menangkap Spirit untuk keperluan pribadi mereka, hanya itulah alasan yang dapat ia pikirkan.

Tetapi—adalah kenyataan kalau tidak ada jalan lain.

“..., aku mengerti.”

Shidou dengan getir mengangguk, dan senyum Kotori mewarnai wajahnya.

“—Yoroshiku. Melihat data sampai sekarang, kali berikutnya seorang Spirit muncul adalah setidaknya satu minggu kemudian. Kita akan segera memulai latihan besok.”

“Huh...? Latihan...?”

Shidou bersuara, tak bergeming.


[edit]
Bagian 5

Tibalah hari berikutnya.

“Kemari.”

“Eh?”

Tiba-tiba.

Tangan Shidou digenggam oleh Origami, dan ia bersuara penuh kebingungan.

“Ah, tu-tunggu...”

Kursinya terjatuh diiringi suara benturan, dan ia diseret keluar dari kelas oleh Origami.

Di belakangnya, mulut Tonomachi ternganga lebar, dan entah mengapa sekelompok gadis sedang membuat keributan *kyaa, kyaa*.

Sembari memikirkan rumor yang akan mulai menjalar ke sekitarnya, Shidou mengikuti Origami. Yah, setidaknya itu lebih baik ketimbang diperlakukan sebagai best couple bersama dengan Tonomachi, ia menghibur diri.

11 April, Selasa.

Itu adalah keesokan hari sesudah Shidou menjalani pengalaman yang aneh dan tidak realistis.

Pada akhirnya, setelah itu Shidou dipindahkan ke ruangan lain di mana ia diberikan penjelasan mendetil mengenai situasi tersebut yang berlangsung sampai malam oleh seorang lelaki yang tidak dikenalnya (sejujurnya, ia tidak sepenuhnya mengingat bagian-bagian akhirnya), dan setelah menandatangani berbagai formulir ia akhirnya diperbolehkan untuk pulang ke rumah.

Tanpa mandi ia melompat ke atas ranjangnya, dan sebelum ia menyadarinya, hari sudah pagi.

Ia menyeret tubuhnya yang lesu ke sekolah, dan bertahan melewati pelajaran sambil menggosok-gosok mata mengantuknya, dan akhirnya pelajaran terakhir berakhir—itu yang sedang ia pikirkan pada saat insiden itu terjadi.

Tanpa berkata-kata, Origami menaiki tangga sampai dia mencapai pintu menuju atap yang terkunci rapat, dan akhirnya melepaskan tangannya.

Suara keramaian murid-murid yang meninggalkan sekolah terasa sangat jauh.

Biarpun ada orang-orang kurang dari sepuluh meter jauhnya, tempat ini terasa seperti ruang yang sepi, terisolir.

“Eh, uhmm...”

Meskipun ia tidak memiliki perasaan apapun terhadap Origami, entah kenapa, dibawa ke tempat seperti itu oleh seorang gadis, ia merasa canggung. Pandangan Shidou melayang kemana-mana.

Namun, tanpa basa-basi,

“Kemarin, kenapa kamu ada di tempat seperti itu?”

Dia berbicara sambil melihat tepat ke mata Shidou.

“Yah, kemarin kelihatannya adikku masih ada di jalanan setelah peringatannya berbunyi, jadi aku mencarinya...”

“Begitu.—Kau bertemu dengannya?”

Shidou menjawab, dan dengan ekspresinya yang tidak berubah, bahkan tanpa menunjukan kekagetan, Origami membalas.

“—A-Ah... ya.”

“Begitu. Syukurlah.”

Setelah mengatakan ini, bibir Origami lanjut bergerak.

“—Kemarin, kamu melihat saya.”

“Ah, ya...”

“Jangan beritahu siapa-siapa.”

Saat Shidou baru saja ingin mengiyakan, Origami berkata dengan suara memerintahkan.

Aku ingin tahu bagaimana dia akan bereaksi jika aku menjawab “Kalau kau tidak mau semua orang tahu sebaiknya kau turuti yang kukatakan, hehehe”, rasa penasaran berbahaya semacam itu terbaca di wajah Shidou.

Tapi seperti yang diduga, Shidou tidak punya keberanian sebesar itu. Ia perlahan menundukkan kepala kedepan.

“Tambahan, bukan hanya tentang saya—tapi semua yang kamu lihat dan dengar. Lebih baik kamu melupakan itu semua.”

Dia pastinya... berbicara mengenai Spirit itu.

“... maksudmu gadis itu?

“...”

Origami hanya memandang Shidou sambil terdiam.

“H-Hey... Tobiichi, gadis itu—”

Ia sudah mendengar tentang Spirit dari <Ratatoskr>, tapi Shidou tetap bertanya.

Pada akhirnya, itu cuma dari sudut pandangan Kotori dan organisasinya. Jika dari orang-orang seperti Origami yang bersilang pedang dengannya, ia pikir bisa jadi mereka memiliki pola pikir yang berbeda.

“Itu adalah Spirit.”

Origami memberikan jawaban pendek.

“Itu sesuatu yang harus saya kalahkan.”

“... s-spirit itu, apa dia orang jahat...?”

Shidou mencoba melemparkan pertanyaan ini.

Saat ia melakukannya, hanya samar-samar, namun ia rasa ia melihat Origami menggigit bibirnya.


“—Orang-tua saya, lima tahun lalu, dibunuh oleh Spirit.”

“... ap—”

Jawaban tak terduga itu menghalangi kata-kata Shidou.

“Saya tidak mau lagi ada orang-orang seperti saya.”

“... be, gitukah—”

Shidou menaruh tangan di dada.

Ia mencoba bagaimanapun caranya untuk menenangkan detak jantungnya yang berdebar sangat kencang.

Akan tetapi, tiba-tiba gagasan yang mengkhawatirkan tiba-tiba muncul di pikirannya. Sambil menggaruk pipinya, ia menanyakan Origami, yang sampai sekarang masih menatap lurus padanya.

“Kalau kupikir-pikir lagi, Tobiichi... mengenai Spirit itu, dan hal-hal semacam itu, tidak apa kalau kau berbicara tentangnya...? Yah, memang aku yang bertanya tentang hal-hal itu...”

“...”

Origami terdiam sejenak.

“Tidak apa-apa.”

“Be-begitu ya?”

“Kalau kamu merahasiakannya.”

“... dan kalau tidak?”

“...”

Lagi-lagi, sejenak dia berhenti berkata-kata

“Akan bermasalah.”

“Begitu... gawat juga. ...aku janji, aku tidak akan memberitahu siapa-siapa.”

Dengan anggukan, Origami mengiyakan.

Pada akhir perbincangan mereka, Origami memindahkan pandangannya dari Shidou, dan menuruni tangga.

“... fuuu...”

Setelah ia tidak dapat melihat punggung Origami lagi, Shidou bersandar pada dinding dan menghela nafas. Meskipun yang mereka lakukan cuma berbicara, ia merasakan kegelisahan yang sangat.

“Orang-tuanya, dibunuh oleh Spirit—ya.”

*Dong*, ia membenturkan kepalanya di dinding, dan bergumam.

Para Spirit disebut-sebut sebagai malapetaka yang akan menghancurkan dunia. Hal seperti itu—mungkin begitulah kenyataannya.

“... mungkin aku memang naif ya...”

Origami dan Kotori, meskipun arah mereka sangat berbeda, mereka bergerak dibawah kepercayaan mereka yang teguh.

Namun bagaimana dengan Shidou?

Kata-kata tajam yang ia katakan di depan Kotori kemarin, dapatkah ia mengatakan hal yang sama pada Origami?

“...”

*Haaa*, ia melepas nafas. Ia tidak berpikir kalau tindakannya salah, tapi ia memiliki perasaan yang berliku-liku.

Lalu, baru saja Shidou ingin menuruni tangga.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaa—!!”

Dari arah koridor, ia mendengar jeritan seorang siswi.

“...!? A-Ada apa?”

Dengan terburu-buru ia meloncati tangga dan menengok, ia melihat banyak murid telah berkumpul di koridor.

Di tengah-tengahnya, ia melihat seorang wanita yang memakai jas putih pingsan di lantai.

“Ap-Apa yang terjadi?”

“Se-sepertinya dia guru baru, dan... tiba-tiba dia jatuh...!”

Aku bertanya, dan seorang siswi di dekat segera menjawab.

“Aku tidak mengerti, tapi sekarang ayo panggil perawat—”

Saat Shidou mulai berbicara, wanita berjas putih yang pingsan itu memegang kakinya.

“W-Waaaah!?”

“......jangan khawatirkan saya. Saya hanya tersandung.”

Seraya berbicara, wanita itu pelan-pelan mengangkat wajah yang tadinya menempel dengan lantai.

“K-kau...!”

Poni panjang dan lingkaran-lingkaran mata yang tebal. Dia sedang memakai kacamata, tapi tidak mungkin Shidou dapat melupakan keunikan wajah tersebut.

“......hn? Ahh, kamu kan—”

Wanita itu—Petugas Analisis <Fraxinus>, Murasame Reine, perlahan-lahan membangkitkan diri dari lantai.

“Ap-apa yang sedang kau lakukan di tempat ini...?”

“...... kamu tidak bisa menebak dengan melihat saja? Saya sudah menjadi guru. Lebih tepatnya saya akan mengajarkan Fisika, dan juga mengambil posisi asisten guru homeroom untuk kelas 2-4.”

Sambil menunjukkan kartu nama yang tertera di dadanya, Reine menjawab. Tanpa sengaja, boneka beruang penuh goresan itu melongok dari kantung dada yang berada tepat di atasnya.

“Tidak, tidak mungkin aku dapat menebak hal itu!”

Ia menyahuti—pada saat itu Shidou sadar kalau, anehnya, pandangan di sekelilingnya telah tertuju ke arah mereka.

“Ah... se-sepertinya orang ini baik-baik saja.”

Ia mengulurkan tangannya dan membantu Reine berdiri.

“......nn, maaf merepotkan.”

“Tidak apa-apa. Ayo bicara sambil berjalan.”

Sambil memperhatikan sekelilingnya, Shidou mengusulkan.

Menyamai langkah Reine, mereka berjalan dengan susah payah.

“Uhm—Petugas Analisis Reine?”

“......nn, ahh, ‘Reine’ saja tidak apa.”

“Huh?”

“......saya juga akan memanggilmu dengan namamu. Orang bilang koordinasi dan kerja sama dibangun dari kepercayaan.”

Reine mengangguk beberapa kali, dan memandang wajah Shidou.

“Uhm, kamu... Shintarou, bukan?”

“Terlalu jauh!”

Tidak ada yang namanya rasa saling percaya di antara mereka.

“......nah sekarang Shin, ini mungkin mendadak.”

“Apa-apaan kau langsung meneruskan saja?! Atau lebih penting lagi kau bahkan memberiku nama panggilan yang aneh!”

Sahutan itu meledak ke muka. Namun, Reine melanjutkan seakan-akan dia tidak mendengar kata-kata Shidou.

“......persiapan untuk latihan pengembangan diri yang Kotori bicarakan kemarin sudah selesai. Saya tadi sedang mencari-cari kamu. Pas sekali, sekarang mari berangkat ke gudang lab Fisika.”

Apapun yang Shidou katakan sekarang akan sia-sia saja, jadi ia menyerah untuk membalas, dan setelah mengeluh kuat, ia bertanya kembali.

“Apa sebenarnya yang akan kulakukan pada latihan ini? Uhm... Reine-san.”

“......hm. Saya dengar ini dari Kotori, Shin, sepertinya kamu tidak pernah berhubungan dengan gadis-gadis kan sebelumnya?”

“......”

—Adikku sayang, mengapa kau menyebarkan sejarah perjalanan kakakmu dengan perempuan (nol) ke orang lain?

Urat nadi kemarahan muncul di wajah Shidou saat ia memberi anggukan ambigu.

“......bukan berarti saya mencoba menyalahkanmu. Memang sangat baik untuk memiliki nilai moral yang kuat. ...Tapi, itu tidak akan membantu saat kamu mencoba menggoda seorang Spirit.”

“Ugh...”

Sembari memberengut, ia mengerang.

Mungkin itu ketika mereka berjalan lewat dekat ruangan staf, ketika

“... ah?”

Shidou melihat sesuatu yang aneh dan berhenti.

“......ada apa?”

“Tidak, itu...”

Pada arah mana ia sedang melihat, guru homeroom Tama-chan sedang berjalan—mengikuti di belakangnya, bayangan mungil dengan rambut terbagi dua lalu berbalik badan.

“Ah!”

Sepertinya dia menyadari pandangan Shidou, lalu bayangan mungil itu—ekspresi Kotori tiba-tiba berseri-seri.

“Oniii-chaaaaaaan!”

Saat itu juga, seakan terhisap ke arahnya, Kotori mendaratkan serangan mendadak pada perut Shidou.

“Hagaa...!”

“Ahahaha, kamu bilang hagaa! Si Pak Mayor! Ahahahaha!”[7]

“Ko-Kotori...!? Kenapa kau ada di sekolah ini...”

Shidou bertanya sambil mencoba melepaskan diri dari Kotori yang menempel pada perutnya, dan dari belakang Kotori, bu guru Tama-chan terburu-buru menghampiri.

“Ah, Itsuka-kun. Adikmu datang, jadi kami baru saja mau menyiarkannya.”

“A-ahh...”

Kalau dilihat baik-baik, Kotori sedang memakai sandal untuk tamu, dan mengenakan kartu pengunjung di bagian dada seragam SMP-nya. Kelihatannya dia memasuki sekolah setelah melalui semua keperluan formalitas dengan benar.

“Oh, sensei, terima kasih!”

“Dengan senang hati.”

Sensei membalas tersenyum pada Kotori yang sedang semangat melambaikan tangannya.

“Aah, benar-benar imouto yang lucu.”

“Haa... yeah.”

Selagi setetes peluh mengaliri wajahnya dan dengan senyum pahit, Shidou memberikan balasan yang ambigu.

Setelah tersenyum dan melambai “dadah” pada Kotori, sensei berjalan pergi menuju ruangan staf.

“... jadi, Kotori.”

“Nn, apaa?”

Sembari melebarkan mata bundarnya, Kotori memiringkan kepala.

Tingkah laku itu milik imouto-nya yang manis seperti yang Shidou kenal.

“Kau... hal-hal malam tadi, <Ratatoskr>, atau Spirit—”

“Kita bicarakan mengenai itu nanti saja.”

Nada bicaranya sama seperti biasanya, tapi untuk alasan tertentu terasa seperti adanya penekanan, maka Shidou terdiam.

Lalu, dari belakang Shidou, suara pelan Reine berkumandang.

“......kamu lebih cepat, Kotori.”

“Mhm, karena aku meninggalkan <Fraxinus> di tengah perjalanan.”

Padahal dia baru saja bilang untuk membicarakan itu nanti, dia alamiah mengucapkan nama pesawat itu.

Merasa kalau ini sedikit tidak masuk akal, Shidou menaruh satu tangan di dahinya.

Melihat hal tersebut dengan senyum riangnya, Kotori melangkah maju di koridor seakan memandu Shidou.

“Ngomong-ngomong, hey, onii-chan. Ayo?”

Sembari mengatakan ini, Kotori menarik tangannya.

“Wh... Whoa, aku tahu, jadi pelan-pelan.”

Hari ini adalah hari dimana ia sering sekali ditarik gadis-gadis. Selagi berpikir dengan santainya mengenai hal semacam itu, mereka sampai di tujuan.

Gedung timur sekolah lantai empat, gudang laboratorium Fisika.

“Ayo, masuk, masuk~♪”

“Jangan mengucapkannya seperti ‘hai-ho’[8]!”

Didorong Kotori, Shidou menggeser pintu terbuka.

Seketika itu juga, ia mengernyit dan mengucek matanya.

“...hey.”

“......apa?”

Reine merespon kata-kata Shidou sambil memiringkan kepala.

“Apa-apaan ruangan ini?”

Gudang laboratorium Fisika bukanlah tempat yang biasa dimasuki murid-murid, dan kenyataannya, Shidou tidak pernah tahu apa isinya.

Meskipun begitu, ia jelas-jelas menyadari.

—Kalau ini bukanlah gudang laboratorium Fisika.

Bagaimanapun juga, penglihatan Shidou terisi dengan sejumlah komputer, layar, dan berbagai alat elektronik yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya.

“......semua itu peralatan ruangan ini?”

“Kenapa kau menjawab dengan sebuah pertanyaan! Dan lagipula selain itu, bukannya ini gudang lab Fisika? Apa yang terjadi pada sensei yang bertanggung jawab untuk tempat ini!”

Betul. Mulanya, ini seharusnya adalah tempat satu-satunya selain toilet dimana sang guru tua yang baik hati dan polos Chousoka Beshiyouichi (nama panggilan ‘batu kerikil[9] sejak lahir’) dapat bersantai.

Sekarang, sosok sang guru Chousoka Beshiyouichi tidak terlihat di manapun.

“......ahh, dia. Hmm.”

Reine menempatkan tangannya di dagu dan mengangguk kecil.

“...”

“...”

“...”

“...”

Dengan demikian, beberapa detik telah berlalu.

“......ah yah, berdiri disana tidak akan merubah apapun. Silahkan masuk.”

“Apa setelah ‘hmm’ hah!?”

Benar-benar kemampuan mengabaikan yang luar biasa. Kemampuan yang perlu dipelajari orang-orang Jepang masa kini.

Reine memasuki ruangan terlebih dahulu, dan duduk di kursi yang ditempatkan di bagian terdalam ruangan.

Selanjutnya, Kotori memasuki ruangan dari samping Shidou.

Lalu, dengan tata cara yang seakan sudah terbiasa, dia melepas ikatan rambutnya dari pita-pita putih dan mengencangkannya kembali dengan pita-pita hitam yang diambilnya dari kantung.

“—Fuuh.”

Setelah dia melakukannya, kelihatannya aura Kotori tiba-tiba berubah.

Dia lalu dengan lesu mengendurkan kerah seragamnya, dan tersungkur ke kursi dekat Reine dengan suara gedebuk keras.

Dan kemudian, dari tas yang dibawanya, Kotori menarik keluar apa yang terlihat seperti binder kecil.

Di dalamnya, berderet dengan indahnya sebagai satu set, berbagai macam tipe Chupa Chups.

Benda itu adalah tempat permen yang sering dibicarakan orang.

Kotori memilih satu, menaruhnya di mulut, dan memberikan tatapan yang seakan merendahkan Shidou, yang masih berdiri di pintu masuk ruangan.

“Sampai kapan kau akan berdiri saja, Shidou? Apa kau mencoba menjadi orang-orangan sawah? Menyerahlah. Dengan wajahmu yang terlihat bodoh, aku tidak pikir kau akan bisa mengusir gagak-gagak. Ah, tapi karena wajahmu sangat menjijikan mungkin sebaliknya manusia tidak akan mendekatimu.”

“...”

Melihat adiknya yang telah berubah menjadi seorang permaisuri hanya dalam sekejap, Shidou menempatkan tangan pada dahinya.

Mengganti pitanya mungkin telah mengalihkan pola pikirnya.

Sama halnya dengan membalikkan pion-pion Reversi[10], kemiripan yang mengesankan dengan Jekyll & Hyde[11].

“... Kotori, yang mana karaktermu yang sebenarnya...?”

“Kau kasar sekali. Kau tidak akan populer dengan wanita kalau begitu terus. —Ahh, karena itu rupanya kau masih perjaka. Maaf karena aku mentah-mentah melontarkan hal yang sudah jelas itu.”

“... hey.”

“Menurut statistik, lebih dari setengah pria yang mencapai 22 tahun tanpa dapat mengencani seorang gadis berakhir sebagai perjaka seumur hidup.”

“Itu berarti aku masih punya sisa lebih dari lima tahun! Jangan menyepelekan diriku di masa depan!”

“Orang-orang yang cuma bisa bicara mengenai kemungkinan-kemungkinan atau waktu sisa yang mereka miliki, pada akhirnya yang mereka katakan cuma ‘Aku akan berusaha keras mulai besok’.”

“Guh...”

Sadar kalau ia tidak dapat menang dalam argumen, ia menggertakkan gigi dan menutup pintu.

“......sekarang, ngomong-ngomong Shin, latihan akan segera dimulai. Silahkan duduk di sini.”

Sambil mengatakan ini, Reine menunjuk sebuah kursi yang terletak di antara mereka berdua.

“...oke.”

Shidou sudah mengerti kalau semua keluhannya akan sia-sia saja, maka ia mengikuti arahan mereka dan duduk di bangku tersebut.

“Sekarang, ayo segera kita mulai penyiks... *uhuk**uhuk*, ayo mulai latihannya.”

“Kau baru saja bilang penyiksaan bukan.”

“Itu imajinasimu saja. —Reine.”

“......ahh.”

Kotori berbicara, dan Reine menyetujui sambil menyilangkan kakinya.

“......apapun tujuanmu, untuk ikut serta dalam rencana kami, kamu harus paling tidak memenuhi syarat tertentu.”

“Apa itu?”

“......singkatnya, kamu harus lebih terbiasa berurusan dengan wanita.”

“Berurusan dengan wanita... ya?”

“......ahh.”

Reine mengangguk. Entah mengapa, kelihatannya dia hampir tertidur begitu saja.

“......bukan hanya untuk mematahkan pertahanan si target saja, namun untuk merebut hati mereka, mengarahkan percakapan adalah hal yang esensial. Biarpun kami dapat memberikan arahan kemana harus pergi dan apa yang harus diucapkan... tapi kalau orangnya sendiri gugup maka tidak akan ada hasilnya.”

“Percakapan dengan seorang gadis... tidak mungkin sesusah itu.”

“Oh benarkah itu.”

Kotori tiba-tiba menggenggam kepala Shidou, dan mendorongnya dengan paksa ke dada Reine.

“......!?”

“......nn?”

Reine melepas suara aneh.

Pipinya diserang dengan sensasi hangat dan lembut, dan mengikutinya adalah wewangian, yang seakan melebur isi otaknya, berputar-putar di hidungnya. Shidou segera mendorong tangan Kotori dan sambil tersentak mengangkat wajahnya.

“...ap, ap-ap-ap-apa yang kau lakukan...!”

“Hmm, tidak bisa ya.”

Kotori dengan gaya meledek mengangkat bahu.

“Kau mengerti sekarang kan? Kalau sesuatu seperti ini saja mengacaukan detak jantungmu tidak bagus kan.”

“Tidak, jelas sekali contoh seperti ini aneh kan!?

Namun Kotori tidak berniat untuk mendengarkannya, selagi dia menggelengkan kepala dalam kekecewaan.

“Benar-benar, kau ini bocah perjaka yang menyedihkan ya. Ya ampun, apa aku baru saja berpikir kau ini sedikit manis?”

“Be-berisik.”

“......yah, tidak apa-apa kan? Justru karena itu juga kita datang ke sini.”

Selagi mengatakan ini, Reine menyilangkan tangannya. Dadanya yang biasa saja sudah mencengangkan sekarang terlihat lebih mencolok lagi.

Atau lebih tepatnya, mereka sedang ‘menunggangi’ tangannya.

“...”

Untuk beberapa alasan tertentu melihatnya membuat dirinya merasa malu, jadi tanpa sadar ia melirik ke mana-mana.

—Latihan agar terbiasa dengan perempuan.

Di kepala Shidou, kata-kata yang diucapkan Reine terlintas.

Tambah lagi, kurang-lebih semua itu mengenai bagaimana menghindari rasa gugup dalam situasi erotis... atau semacam itu.

Kotori dan Reine, apa yang sebenarnya mereka rencanakan untuk dilakukan Shidou di sini—

“Telan ludahmu. Menjijikan tahu.”

Sambil menaruh sikunya di meja, Kotori mengucapkan itu dengan mata setengah terbuka.

“...! T-tidak bukan seperti itu Kotori! A-aku tidak...”

“......uhm, kita akan segera mulai bukan?”

Memotong pembicaraan di antara Kotori dan Shidou, Reine menaikkan kacamatanya.

“Haa—, t-tunggu, aku belum mempersiapkan diri...”

Dengan suaranya yang gemetar karena gugup, Shidou meluruskan punggungnya.

Tanpa memedulikannya Reine bergumam “......nn”, dan seperti beberapa saat yang lalu tubuhnya mendekat ke Shidou.

Dibandingkan dengan kejadian sebelumnya saat mereka berkontak tanpa pemberitahuan dahulu, jantungnya berdenyut jauh lebih cepat.

—Ahh, apa? Apa yang akan dilakukannya...!?

Dengan jantungnya berdenyut seperti ini ia bahkan tidak dapat bergerak. Sambil membuat ekspresi seperti karakter utama dalam shoujo manga[12] tahun 80an, Shidou memejamkan matanya rapat-rapat.

Namun, tidak peduli berapa lama ia menunggu, tidak terjadi apa-apa.

Ia membuka mata dan melihat-lihat, ternyata Reine cuma menyalakan power monitor di meja.

“Eh...?”

Selagi Shidou melihat dengan tatapan kosong, huruf-huruf <Ratatoskr> yang didesain dengan lucu terlihat di layar.

Selanjutnya, bersamaan dengan nada musik pop, gadis-gadis cantik dengan berbagai warna rambut bermunculan satu persatu, lalu menari-nari sebuah logo yang kelihatannya adalah judulnya, Koishite, My•Little•Shidou[13].

“I-ini kan...”

“......yup. Inilah yang disebut dengan dating simulation game.”

“Ini galge?!”

Shidou menyahut hampir-hampir menjerit.

“Ya ampun, apa yang kau bayangkan? Sepertinya cuma kemampuan berfantasimu yang kelas-satu, dasar menjijikan.”


“... ti, tidak, i-itu...”

Sambil terbata-bata... entah bagaimana ia berhasil menenangkan detak jantungnya dengan berdeham.

“A-aku cuma, ragu kalau yang seperti ini bisa dibilang latihan...”

Dalam diam, Kotori memandanginya dengan mata yang seakan sedang melihat sesuatu yang jorok.

Ia berharap setidaknya dia mengatakan sesuatu. Keheningan ini, keheningan ini sungguh menyakitkan.

“......uhm, tolong jangan bilang begitu. Ini baru tahap pertama dari latihan. Tambah lagi, ini bukan barang yang dapat kamu cari di toko-toko, ini dibuat oleh seluruh anggota <Ratatoskr>. Game ini secara realistis membuat ulang situasi-situasi yang dapat terjadi di kehidupan nyata. Ini paling tidak dapat membuatmu siap. Ngomong-ngomong, ini untuk 15+.”

“Ahh... jadi bukan 18+”

Shidou mengucapkan itu tanpa maksud tertentu namun, Kotori memandanginya dengan tatapan yang menyimpan rasa kasihan.

“Kau benar-benar rendahan.”

Lalu, Reine menggaruk kepala.

“......Shin, bukankah kamu masih 16 tahun? Kamu seharusnya tidak boleh bermain game 18+ kan?”

“Bukannya ini sedikit berbeda dengan apa yang kau katakan beberapa saat lalu?!”

Ia berteriak, tapi baik Kotori maupun Reine tidak terlihat akan menanggapinya.

“......nn, kalau begitu ayo mulai.”

“Oke oke... heh.”

Meskipun merasa kalau ada yang tidak masuk akal, Shidou mengambil controller dengan tangannya seperti yang diperintahkan.

Bermain galge di saat adikmu dan seorang guru menontoninya, hukuman macam apa ini, itu pikirnya.

Membaca sepintas monolog sang protagonist, alur game terus berjalan.

Lalu, layar tiba-tiba menjadi gelap.



”Pagi, onii-chan! Lagi-lagi hari yang cerah ya!”

Bersamaan dengan kata-kata tersebut, CG[14] yang indah ditampilkan di layar.

Gadis yang pendek, mungkin adik sang protagonist, digambar dengan komposisi yang sedikit miring.

Atau lebih tepatnya, dia sedang menginjak protagonist dalam tidurnya.

Dengan celana dalamnya terlihat sepenuhnya.

“Gak mungkiiiiiiiin!!”

Selagi mencengkeram controllernya, Shidou mengeraskan suaranya.

“......ada apa Shin. Ada masalah?”

“Bukannya kau bilang ini mensimulasikan situasi yang bisa terjadi di kehidupan nyata?!”

“......itu benar, apa ada yang aneh?”

“Aneh atau tidak, situasi kacau seperti ini tidak... mungkin...”

Ia berhenti di tengah-tengah, dahi Shidou mulai berkeringat.

Ia menyadarinya entah kenapa, pengalaman yang sangat serupa sepertinya baru terjadi kemarin pagi.

“......ada apa?”

“...lupakan, bukan apa-apa.”

Ia merasa kalau ada yang benar-benar tidak beres, Shidou kembali melanjutkan game.

Setelah ia sedikit memajukan alur teks, beberapa kata-kata muncul di tengah layar.

“Hmm...? Apa ini?”

“Mm, itu adalah pilihan-pilihannya. Kau memilih tindakan protagonist selanjutnya lewat salah satu pilihan ini. Sesuai dengan apa yang kau lakukan affection point-mu akan berubah jadi berhati-hatilah.”

Seraya berkata, Kotori menunjuk bagian kanan bawah layar. Di sana, terdapat sebuah objek seperti meteran dengan cursor-nya menunjuk ke posisi nol.

“Hmm... Begitu ya. Jadi tidak apa-apa kalau aku cukup memilih salah satu kan?”

Shidou mengalihkan mata dari meteran affection points ke pilihan-pilihan itu.

①”Pagi, aku cinta kamu Ririko.” Dengan kasih sayang memeluk imouto.

②”Aku sudah bangun. Atau lebih tepatnya kau sudah membangunkanku sepenuhnya.” Menyeret imouto ke tempat tidur.

③”Kena kau, idiot!” Memegang kaki yang menginjakmu, dan mengunci pergelangan kakinya.

“... Apa-apaan tiga pilihan ini! Bagian mana yang sesuai kenyataan! Aku tidak pernah melakukan yang manapun!”

“Terserahmu lah, batas waktunya hampir habis.”

“Huh...?!”

Seperti yang Kotori bilang, angka yang ditampilkan di bawah pilihan-pilihan itu pelan-pelan mengecil.

“... sepertinya aku harus melakukannya.”

Shidou mengucapkannya setengah menggerutu, dan memilih yang paling normal dari pilihan-pilihan itu, ①.

"Pagi, aku cinta kamu Ririko."

Dengan penuh kasih sayang kupeluk imouto-ku, Ririko.

Saat aku melakukannya, wajah Ririko langsung dipenuhi rasa jijik, dan dia mendorongku menjauh.

”Eh... hey, apa yang, bisakah kamu berhenti melakukannya? Dasar menjijikkan.”

Meteran Affection Point-nya turun drastis ke minus lima puluh.

“Harusnya ini mirip kenyataan kan!”

Sambil membanting controller ke lututnya, Shidou berteriak.

“Ahhhh, bodoh. Biarpun itu adikmu sendiri, jelas-jelas itu yang akan terjadi kalau kau tiba-tiba memeluknya. —Benar-benar deh, untung saja ini cuma game, kalau ini terjadi di kehidupan nyata, pasti sudah ada lubang angin yang menawan di perut Shidou."

“Lalu apa yang harus kulakukan!”

Shidou menjerit atas perlakuan yang sangat tidak masuk akal ini, dan Kotori bertingkah seakan dia tidak mendengarnya.

Sambil mengeluh, dia menyalakan LCD screen di depannya.

“Ah...? Apa yang kau lakukan?”

“Meskipun ini cuma latihan, perlu ada sedikit ketegangan.”

Di layar, pemandangan yang ia ingat ditampilkan. Itu adalah pintu masuk menuju Raizen High School

Di sana, dari pandangan kamera, berdiri seorang laki-laki setengah baya sedang memakai seragam SMA.

“...kenapa orang itu?”

“Dia anggota crew kami.”

Sambil mengatakan ini, Kotori menarik sesuatu seperti mic entah dari mana dan berbicara ke arahnya.

“—Ini aku. Shidou menggagalkan satu pilihan. Lakukan.”

“Huh?”

Lelaki di gambar itu menunduk hormat.

“Ha...? Ap-apa?”

Shidou mengernyitkan mata, dan lelaki di gambar itu menarik selembar kertas dari kantungnya. Ia lalu memampangkannya di depan kamera.

Ketika ia melihatnya, Shidou merasa shock seakan jantungnya telah berhenti.

“I-itu kan—”

Melihat reaksinya, senyuman yang memperlihatkan kalau dia sangat menikmati ini muncul di wajah Kotori.

“Betul. Itu adalah puisi oleh Shidou muda, karena dipengaruhi manga, ia menulis: ‘Etude, persembahan untuk dunia yang rusak ini’.”

“Ke... ke-ke-ke-ke-ke-ke-ke-kenapa kau punya itu...?!”

Tidak diragukan lagi, itu adalah puisi yang telah Shidou tulis di buku catatannya saat SMP. Namun sebelum masuk SMA, puisi itu jadi terasa memalukan baginya dan ia seharusnya sudah membuangnya.

“Fufu, dulu kupikir itu akan berguna suatu hari nanti jadi aku memungutnya kembali.”

“A, a-ap-apa yang kau rencanakan...!”

Sambil tersenyum lebar, Kotori memerintahkan, “Lakukan.”

“Siap.”

Dengan jawaban pendek, sang lelaki dengan sopan memasukkan puisi tersebut ke dalam rak sepatu terdekat.

Dengan begini, beberapa murid yang datang ke sekolah besok akan berakhir membaca puisi yang telah Shidou tulis dengan sepenuh jiwanya.

“Ap... apa yang kau lakukan!”

“Jangan banyak cingcong, kau ini memalukan. Kalau kau berbuat kekacauan ketika berhadapan dengan seorang Spirit maka itu tidak akan berakhir dengan hal semacam ini saja. Tidak perlu dipertanyakan mengenai Shidou sendiri, tapi ada kemungkinan juga kalau kami ikut terseret masuk ke dalam persoalan. —Maka dari itu, untuk memberimu sense ketegangan, aku memberikan penalty ini.”

“Itu terlalu beraaaaat! Lagipula, kalau begini bukannya cuma aku yang dirugikan?!”

Shidou berteriak, dan Reine memberinya anggukan, menempatkan tangannya di dagu.

“......memang betul, apa yang Shin katakan ada benarnya.”

“! Be-betul kan!”

Mendengar bantuan yang tidak diduganya, wajah Shidou berseri. Namun,

“......kalau begitu, ketika Shin salah membuat pilihan, kita juga harus menghadapi semacam penalty.”

Sambil mengatakan ini, perlahan-lahan dia mulai melepas jas putihnya.

“Tung... apa yang kau lakukan?!”

“......yah, bukankah kamu bilang tidak adil kalau kamu saja yang mendapat malu? Jadi ketika Shin membuat kesalahan dalam sebuah pilihan saya akan melepas satu stel pakaian seperti ini.”

Dia berkata, dan tanpa kelihatan malu sedikitpun dia menyilangkan tangan.

“Bukan itu yang kumaksuuuuud!”

“Apalah katamu, lanjutkan game-nya.”

Kotori dengan tidak sabar menendang kursi.

Dengan wajah hampir menangis, Shidou menyerah dan menghadap layar.

Tapi, kalau pilihan-pilihan yang muncul nanti semuanya seperti ini, ia tidak punya keyakinan kalau ia dapat dengan aman menyelesaikannya.

“... hey Kotori, untuk bahan pembelajaran, bisa aku coba semua pilihannya untuk kesempatan terakhir ini?”

“Uwah, bertindak pengecut dan berpikir layaknya orang awam, benar-benar memalukan.”

“Be-berisik, ini pertama kalinya aku memainkan yang semacam ini jadi beri aku keringanan!”

“Yang benar saja, baiklah. Cuma satu kali ini saja. —Kalau begitu, save disini.”

"O-Oke..."

Setelah Shidou selesai save, ia me-reset game dan kembali ke pilihan pertama.

“...”

Dengan tampang cemberut ia melototi semua pilihannya... benar-benar kelihatannya tidak ada yang layak untuk dipilih.

Tapi sepertinya ③ tidak terlihat dapat meningkatkan affection points-nya. Dengan menyingkirkan pilihan itu, ia memilih ②.


”Aku sudah bangun. Atau lebih tepatnya kau sudah membangunkanku sepenuhnya.”

Bangun sambil terhuyung-huyung, aku menyeret Ririko ke dalam tempat tidur dan menarik selimut menutupinya.

”Ah..., ap-apa yang kamu lakukan!”

”Mau bagaimana lagi. Karena Ririko sendiri semuanya jadi seperti ini.”

”!! Tidak, berhenti!! Tidaaaaak!”

”Tidak apa tidak apa tidak apa.”

Layar menjadi gelap.

Perkembangan selanjutnya terjadi seketika.

Sang imouto, ambruk dalam tangisan. Sang protagonist, dipukuli ayahnya. Suara jernih borgol tangan. Sang protagonist, tertawa sendirian di dalam ruangan gelap.

Dengan CG tersebut sebagai latar belakangnya, musik yang sedih disertai credits mulai masuk.

“Apa-apaan iniiii!”

Tanpa bisa menahan diri, Shidou berteriak.

“Kalau kau tiba-tiba melakukan hal semacam itu ya jelas-jelas saja kau akan berakhir menjadi peleceh seksual.”

“Berarti ③ jawaban yang benar?!”

Shidou me-reset game, dan untuk ketiga kalinya kembali ke pilihan pertama, dan kali ini memilih ③.

”Kena kau idiot!”

Kupelintir kaki adikku, mengunci pergelangan kakinya—atau lebih tepatnya, aku mencobanya.

”Naif.”

Dia memelintirkan tubuhnya, meloloskan diri dari peganganku, dan seperti itu, mengayunkan kakinya ke punggungku dan memegang kakiku dengan posisi Sharpshooter yang sempurna.

”Ghufu...?!”

Setelahnya, akibat cedera yang didapat pada saat itu, sang protagonist menderita kelumpuhan di bagian bawah tubuhnya dan terpaksa hidup terperangkap di atas kursi roda. —Dengan demikian, game berakhir.

“Hey, pada akhirnya bukankah ① pilihan yang benar!? Dan biasanya imouto-mu tidak mungkin bisa melakukan gerakan seperti itu kan!”

“Hmpf.”

Segera setelah Shidou mengatakan ini, Kotori mencengkeram kerahnya dan menghempaskannya ke lantai, langsung menangkap kakinya dan melakukan Sharpshooter.

“Ghi...!?”

“Hmph, ghi? Setidaknya teriaklah dan panggil ibumu.”

Sambil berkata ini, dia melepaskan Shidou dan dengan terlihat segar meluruskan rambutnya.

“H-hey kau, di mana kau mempelajari gerakan—”

“Itu kecakapan seorang lady.”

Dengan tegas dia mengatakannya.

Bayangan Shidou akan seorang lady tiba-tiba berubah menjadi bayangan seorang pro-wrestler yang menonjolkan otot-ototnya.

“Ugh..., lalu bagaimana dengan ini, pada akhirnya apa pilihan yang benar?”

“Ya ampun, kau bahkan menanyakan jawabannya pada si pembuat? Menyedihkan sekali.”

Selagi berbicara, Kotori mengambil controller dari Shidou, me-reset game dan melanjutkannya sampai pilihan pertama.

Ia lalu lanjut terdiam menatap layar tanpa memilih apapun.

“...? Apa yang kau lakukan? Kalau kau tidak cepat-cepat—”

Sebelum Shidou selesai berbicara, angka yang ditampilkan di bawah pilihan menjadi nol.

”Mmm... sepuluh menit lagi...”

”Ayo! Cepat bangun!”

Dengan begitu, percakapan yang sangat normal ditampilkan di layar.

Meteran affection point tidak naik ataupun turun.

“Ap...”

“Tidakkah kau pikir ada yang salah kalau memilih dari pilihan-pilihan aneh seperti itu?”

Sambil tertawa meledek, Kotori mengembalikan controller pada Shidou.

“Aku akan membuat pengecualian khusus dan membiarkanmu melanjutkan dari route ini, jadi cepat lanjutkan. Oh, tambah lagi mulai dari pilihan selanjutnya akan ada penalty.”

“Guh..., grr...”

Sementara ia merasakan emosi yang tidak dapat dipahaminya sendiri, Shidou menggenggam controller.

Ia melanjutkan game, seorang guru perempuan dengan lingkar dada lebih dari 100cm kebanggaannya muncul di layar.

Meskipun itu sudah tidak realistis, Shidou tidak mengacuhkannya dan melanjutkan.

Lalu,

”Kyaa!”

Bersama dengan sebuah teriakan, sang bu guru tersandung entah oleh apa dan jatuh dengan posisi di mana wajah sang protagonist terdorong masuk ke dalam dadanya.

Seperti yang diperkirakan, controller terlempar ke atas meja.

“Tidak, mungkin! Hal semacam...”

Ia mulai berbicara, tapi sekali lagi Shidou merasakan keringat dingin, dan dengan kesal memungut controller lagi. Ia merasa kalau kejadian semacam ini, meski situasinya berbeda, telah terjadi beberapa waktu yang lalu.

“Ada yang salah, Shidou?”

“... tidak ada.”

Terdiam, ia lanjut bermain.

Dengan demikian, sekali lagi sebuah pilihan muncul.

①”Setelah kejadian seperti ini... sensei, saya mulai menyukaimu.” Dengan lembut memeluknya.

②”I-ini dewa susuuu!” Menggenggam payudaranya.

③”Kesempatan!” mengubah posisi melakukan armbar.


... sekali lagi, di antara pilihan itu tidak ada yang terlihat masuk akal.

“Jadi begini rupanya...!”

Shidou erat-erat mengepalkan tinjunya. Ini pasti mengikuti pola yang sama dengan sebelumnya.

Menunggu sampai hitungan di bawah pilihan-pilihan menjadi nol, seperti yang diduganya beberapa teks muncul di layar.

”..., kyaaaah! Apa yang kau lakukan!? Mesum! Dasar mesum!”

Sang bu guru menjerit, affection point-nya berkurang 80 point.

“Apaan ini!”

Shidou berteriak, dan Kotori hanya menggeleng menghina.

“Kalau kau menikmati dadanya selama itu tanpa mencoba melarikan diri, respon seperti ini sepertinya sudah jelas.”

“Lalu apa yang seharusnya kulakukan!?”

“Apa kau tidak membaca teks sebelum pilihan itu? Dia adalah guru pembimbing Klub Judo, Goshogawara Chimatsuri. Kau harus menahan gerakannya, dan mengalihkan perhatiannya dari dadanya ke pergumulan itu.”

“Bagaimana aku bisa tahu hal ituuuuu!”

“—yah, kekalahan adalah kekalahan. Lakukan.”

“Siap.”

Lelaki di kamera sekali lagi mengambil sepotong kertas dari kantungnya, dan menunjukannya ke kamera.

Itu adalah gambar kasar seorang karakter disertai setting-nya yang mendetil.

“I... Ini kan!”

“Betul. Ini adalah naskah original character yang Shidou buat di masa lalu.”

“Gyaaaaaaaaaaaaaah?!”

Biarpun Shidou berteriak kencang, lelaki tersebut memasukkan kertas tersebut ke dalam rak sepatu yang dipilih secara acak.

“Hentikan hentikan hentikaaaaaaan!”

Shidou memegangi kepalanya dan menjerit, sementara Reine mulai bergerak-gerak dengan suara kosak-kasik.

“..., Reine-san!”

Ia sampai lupa. Dia sudah bilang kalau setiap kali Shidou mendapat penalty, dia akan melepas satu stel pakaian lagi.

Yah, karena Shidou adalah bocah SMA yang masih waras, tentu saja bohong kalau ia tidak akan senang... tapi, entah kenapa, ia sedikit merasa kerepotan.

Untung saja, Reine masih memakai banyak setelan pakaian di tubuhnya. Apabila ia memastikan agar tidak salah memilih lagi maka—

“... nn”

Tepat ketika Shidou memikirkan ini, Reine perlahan-lahan memindahkan tangan ke balik punggungnya, melakukan sesuatu yang menyebabkan suara ‘klik’, lalu menggerakkan tangannya ke dalam bajunya dan menggersak-gersakkannya sedikit, lalu menarik bra-nya dari leher.

“Kau mulai dari situ!?”

Shidou menyahut, Reine menelengkan kepala ke samping.

“......apa ada masalah?”

“Tidak, tapi bukannya jelas-jelas urutannya terbalik?! Atau lebih tepatnya, kau tidak perlu melepas bajumu lagi!”

“......hmm? Bukankah itu tidak adil? Saya masih bisa lanjut...”

“Kau cuma mau melepasnya kan, benar kan!?”

Shidou mengeraskan suara, dan sekali lagi dengan suara *gan* kursinya ditendang.

“Aku tidak peduli mengenai itu tapi cepatlah. Lihat, karakter selanjutnya sudah muncul.”

Seraya berkata, Kotori menunjuk layar.

“Guh...”

Tanpa pilihan lain, Shidou lanjut bermain.

Kali ini, yang ditampilkan di layar adalah sebuah adegan dengan seorang gadis yang kelihatannya setahun-pelajaran dengan sang protagonist, yang bertabrakan dengannya di sudut koridor, jatuh dengan indahnya sementara kaki-kakinya membentuk M dan celana dalamnya terlihat jelas.

“—!”

Setelah mencari-cari dalam ingatannya, Shidou mengepalkan tinjunya, dan berkata dengan suara kencang.

“Tidak ada! Yang ini, yang ini pastinya tidak pernah terjadi!!”

“......begitukah? Meskipun begitu saya pikir tanpa kita duga hal seperti ini dapat terjadi...”

Itulah yang Reine katakan, tapi ia pastinya tidak pernah mengalami yang seperti ini sebelumnya. Shidou dengan yakin menggelengkan kepala.

Tapi, lagi-lagi kursinya ditendang.

“Ini bukanlah game di mana kau mencoba memilih apakah sebuah situasi itu realistis atau tidak. Lakukan dengan sebaiknya. Kalau kau membuat kesalahan di pilihan berikutnya.—lihat ini.”

Selagi mengatakan ini, Kotori mengoperasikan komputer di depannya.

“... ah?”

Shidou mengernyitkan mata selagi sebuah animasi ditampilkan di layar.

—Latar tersebut adalah kamar Shidou. Di sana, Shidou sedang berdiri setengah telanjang.

“I... ni kan...”

Wajah Shidou berubah pucat.

Bagaimanapun juga, ini adalah—

“Secret Skill●Instant Lighting Blaaaaaaaaaast!”

Di tampilan itu, Shidou membuat pose dengan kedua tangannya menyatu di depan pinggang, dan dengan seluruh kekuatannya tiba-tiba mendorongnya ke depan.

Kotori memasang wajah yang terlihat seakan dia tidak mungkin menikmati hal lain lebih dari yang sekarang ini.

“Betul, ini, sebelumnya saat Shidou sedang menjaga rumah sendirian... *pu*, ketika dia sedang melatih serangan penghabisan original-nya di kamar... *kuku*, video ini...”

Tak bisa lagi menahan diri, Kotori berkata selagi tawanya tumpah.

“TidaaaaaaaaaaaAAAaaaaaaaaaaaAaaaaAAaaaaaaak—!”

Shidou melepaskan teriakannya yang paling menakjubkan pada hari ini.

“Kotori! Jangan yang ini! Tolong, apapun selain yang ini!”

“Fufu, sebaiknya kau pastikan agar membuat pilihan yang tepat lain kali. ...ahh, kalau kau menyerah di tengah-tengah, aku akan meng-upload-nya ke sebuah site video”

“......”

Dengan wajah yang terlihat ingin menangis, Shidou menggenggam controller sekali lagi.

Bab 1: Gadis Tanpa Nama



Bagian 1

“Ahhh...”

Perasaan saat bangun tidur memang benar-benar yang terburuk.

Lagipula, ketika kau terbangun dan menemukan adikmu sedang semangat menari samba sambil menginjak-injak perut atau dada atau kepalamu, selain sekelompok orang-orang tertentu, siapapun tidak akan menyenanginya.

10 April, Senin.

Kemarin adalah hari terakhir libur musim semi, jadi hari ini masuk sekolah.

Sambil mengusap matanya yang masih mengantuk, Shidou berkata dengan suara yang direndah-rendahkan:

“Ahh, Kotori. Imouto[1]-ku yang lucu.”

"Ohhhhh!?"

Saat itulah dia akhirnya menyadari kalau Shidou sudah terbangun. Sang imouto dengan kaki yang masih menginjak perut Shidou—Kotori, membalikkan kepala sambil merapikan seragam SMP-nya.

Rambut panjangnya, terbagi menjadi dua ikatan, berayun-ayun, selagi dia memandang Shidou lewat mata bundarnya yang sebesar biji ek.

Anehnya, meskipun dia baru saja tertangkap basah menginjak seseorang di pagi-pagi buta, ia tidak membalas dengan “Sial!” atau “Ah ketahuan!”. Malah kelihatannya, dia terang-terangan terlihat gembira karena Shidou telah bangun.


Oh, dan dari posisi Shidou, celana dalamnya terlihat dengan memukau.

Dan itu bukan hanya terlihat sekilas saja. Tidak tahu malu juga ada batasnya.

“Ada apa? Onii-chan[2] yang lucu!”

Kotori menjawab, tanpa sedikitpun niat untuk memindahkan kakinya.

Kalau kau penasaran, sebenarnya Shidou tidak lucu.

“Eh, pergi dari atasku. Berat.”

Kotori mengangguk dalam-dalam dan melompat dari tempat tidur.

Perut Shidou terkena hantaman seperti terpukul benturan tubuh.

“Gfhu!”

“Ahahaha, gouf! Itu kan Mobile Suit tipe darat[3]. Ahahahaha!”

“...”

Shidou sambil terdiam menarik selimut ke atas kepalanya.

“Ahh! Hei~! Kenapa tidur lagi!?”

Kotori mengeraskan suaranya, pelan-pelan menggeser-geser tubuh Shidou.

“Sepuluh menit lagi...”

“Gaak boleeh~! Cepat bangun!”

Setelah duduk dan meringis karena rasa pusing setelah menggelengkan kepalanya, Shidou membuka mulutnya sambil mengerang.

“C-Cepat Lari...”

“Eh?”

“... sebenarnya, aku sudah terjangkit ‘Virus kalau aku tidak tidur selama 10 menit lagi aku akan menggelitiki imouto-ku tanpa ampun’, nama lainnya. T-virus..."

“A-Apa!?”

Kotori sama terkejutnya dengan orang yang baru saja menemukan pesan rahasia dari alien.

“Lari... selagi aku masih bisa mengendalikan diri...”

“T-Tapi, bagaimana dengan onii-chan!?”

“Jangan khawatirkan aku... selagi kau aman-aman saja...”

“Gak mungkin! Onii-chan!”

“Gaaaahh!”

“Kyaaaaaaaaaaa!”

Shidou menyibak selimutnya, dengan liar menggerakan kedua tangannya dan meraung, membuat Kotori kabur sambil berteriak ketakutan.

“... hah”

Sambil menghela nafas, ia menyelimuti dirinya lagi. Ia melihat jam, masih belum pukul enam.

“Masih jam segini sudah membangunkan...”

Saat menggerutu, ia tiba-tiba mengingat sesuatu.

Pikirannya yang setengah tertidur perlahan-lahan tersadarkan, muncul ingatan dari malam sebelumnya.

Kedua orangtuanya telah berangkat melakukan perjalanan untuk keperluan bisnis kemarin.

Karena itulah Shidou untuk sementara bertanggung jawab atas urusan dapur, maka dari itu Shidou, yang susah bangun tidur, meminta Kotori untuk membangunkannya.

“Ah...”

Ia merasa bersalah, seakan sudah melakukan sesuatu yang jahat, ia terburu-buru bangkit dari tempat tidur.

Merapikan rambutnya yang acak-acakan dan menahan kantuk, Shidou dengan lesu berjalan keluar dari ruangan.

Pada saat itu, cermin kecil yang tergantung di dinding menarik perhatiannya.

Seorang anak lelaki dengan poni yang hampir menutupi pandangannya, mungkin karena ia sudah cukup lama tidak potong rambut, menjatuhkan pandangan bodoh pada Shidou.

“...”

Berbarengan dengan penglihatannya yang semakin kabur, wajahnya juga terlihat sedikit menua. Sambil mengeluh, ia menuruni tangga dan memasuki ruang tamu.

“... huh?”

Pemandangan yang sedikit lain dari biasanya menyambutnya.

Meja kayu yang ada di tengah ruang tamu sekarang dimiringkan ke samping, seperti menjadi barikade. Di baliknya, terlihat kepala dengan twin-tail yang sedikit gemetaran.

"..."

Melangkah diam-diam, Shidou mendekati sisi meja.

Pastinya, Kotori sedang duduk di situ memeluk lututnya dan gemetar ketakutan.

"Graaaaahh!"

"Kyaa! Kyaaaaaaa!"

Saat Shidou memegangi bahunya, Kotori meneriakkan pekikan putus-asa bersamaan dengan melemasnya kaki-tangannya.

“Tenang, tenang! Ini diriku yang biasa.”

"Gyaaaa! Gyaa... ah? O-onii-chan?"

"Yap, yap."

"Kamu... Gak seram lagi?"

“Udah gak apa-apa sekarang. Aku, teman Kotori.”

“Oh, ohhhhhh.”

Setelah Shidou berbicara dengan nada lucu, wajah tegang Kotori perlahan-lahan rileks.

Bagaikan tupai rubah liar yang telah membuka hatinya.

"Maaf, maaf. Aku akan membuat sarapan sekarang."

Setelah melepas tangan Kotori dan berdiri, Shidou menaruh meja kembali ke posisi asalnya dan pergi menuju dapur.

Karena bekerja di perusahaan elektronik besar yang mereka bangun bersama, kedua orang tua Shidou sering bepergian dari rumah.

Pada saat-saat itulah, Shidou selalu bertanggung jawab untuk menyiapkan makanan, jadi ia sudah terbiasa. Malah kenyataannya, ia yakin ia dapat menggunakan peralatan memasak lebih baik dari ibunya.

Ketika Shidou sedang mengambil beberapa telur dari kulkas, ia mendengar suara TV dari belakang. Sepertinya Kotori sudah menenangkan diri dan menyalakan TV.

Kalau dipikir-pikir, sepertinya Kotori punya kebiasaan harian, makan sambil menonton pojok horoskop atau ramalan.

Yah, kebanyakan acara ramalan biasanya muncul di akhir acara utama, dan tentu saja hanya spekulasi belaka. Setelah memeriksa seluruh channel, Kotori mulai menonton sesuatu yang sepertinya sebuah acara berita yang membosankan.

「—Pagi hari ini, di pinggiran Kota Tenguu—」

"Nn?"

Tidak sengaja ia mendengar isi acara berita yang biasanya tak berguna dan sekadar BGM[4] saja, Shidou mengangkat sebelah alis.

Alasannya sederhana. Dari suara jernih sang penyiar, ia mendengar nama jalan yang tidak asing.

"Nnn? Itu lumayan dekat. Ada kejadian apa?"

Mencondongkan badan dari balik counter, ia menyipitkan mata dan menatap TV.

Di layar, tampil gambar jalan yang hancur bukan main.

Gedung-gedung dan jalanan telah kandas menjadi puing-puing.

Kehancuran itu menyaingi benturan sebuah meteorit, atau bahkan serangan udara.

Shidou mengernyitkan alisnya, dan melepas nafas yang ditahannya lalu berkata:

“Ahhhh... Spacequake ya.”

Seakan sudah jemu mendengarnya, ia menggelengkan kepala.

‘Gempa ruang’ mengacu pada fenomena berguncangnya sebuah daerah luas.

Itu adalah istilah umum yang diberikan pada letusan, gempa, kelenyapan, dan hal lainnya yang terjadi tanpa alasan jelas pada waktu dan tempat yang tidak pasti.

Seperti halnya monster raksasa, menghancurkan jalanan untuk alasan yang tidak jelas, fenomena-fenomena yang tidak masuk akal.

Peristiwa pertamanya terjadi sekitar tiga puluh tahun lalu.

Terjadi tepat di tengah-tengah Eurasia—daerah yang memuat banyak negara seperti Uni Soviet, Cina, dan Mongolia terhapus dalam satu malam.

Bagi generasi Shidou, hanya melihat gambar-gambar di textbook saja sudah merasa risih.

Seakan-akan semua yang ada di permukaan tanah dikorek lepas, tanpa meninggalkan sisa apapun.

Korban jiwa tercatat sekitar 150 juta orang. Itu adalah bencana terbesar dan paling mematikan dalam sejarah manusia.

Dalam 6 bulan berikutnya, insiden-insiden serupa terjadi dengan skala yang lebih kecil di seluruh penjuru dunia.

Shidou tidak dapat mengingat jumlah kejadian pastinya, tapi sekitar lima puluh kali.

Di pedaratan, kutub, samudera, bahkan di pulau-pulau kecil, kasus-kasus seperti itu sudah dikonfirmasi.

Tentu saja, Jepang bukan pengecualian.

Enam bulan setelah Bencana Langit Eurasia itu, daerah dari Tokyo bagian Selatan sampai Perfektur Kanagawa telah berubah menjadi lingkaran daratan hangus, seolah dihilangkan dengan sebuah penghapus.

Benar—termasuk daerah yang Shidou tinggali sekarang.

“Tapi dulu sempat berhenti terjadi untuk sementara, kan? Kenapa jumlah kejadiannya bertambah lagi?”

“Akupun mau tahu...”

Pada pertanyaan Shidou, Kotori, masih menatap TV, memiringkan kepala.

Setelah kejadian di Kanto Selatan sebelumnya, spacequake sempat tidak terdeteksi untuk sementara.

Akan tetapi, lima tahun lalu, dimulai dari pinggiran Kota Tenguu yang baru dibangun ulang, fenomena misterius ini kembali bermunculan di sana-sini.

Tambah lagi, kebanyakannya terjadi—di Jepang.

Tentu saja manusia tidak duduk diam saja tanpa melakukan apapun selama selang dua puluh lima tahun itu.

Dimulai tiga puluh tahun lalu dari daerah-daerah yang telah selesai dibangun ulang, shelter[5] bawah tanah telah tersebar dengan laju yang luar biasa cepat.

Bersamaan dengan adanya kemampuan untuk mengamati pertanda akan terjadinya spacequake, sebuah tim penanggulangan bencana dari Pasukan Bela Diri[6] yang berlisensi telah terbentuk.

Tujuan mereka adalah untuk bepergian ke daerah-daerah bencana dan membangun kembali fasilitas dan jalan-jalan yang hancur, tapi cara kerja mereka hanya dapat dijelaskan sebagai sihir.

Bagaimanapun juga, jalan-jalan yang hancur lebur, dalam jangka waktu yang sangat singkat, dapat dipulihkan seperti keadaannya semula.

Pekerjaan mereka digolongkan sebagai Top Secret sehingga tidak ada informasi yang disebarkan ke publik, namun ketika kau melihat gedung runtuh dibetulkan hanya dalam satu malam, mau tak mau kau akan merasa seperti baru melihat trik sulap.

Akan tetapi, biarpun perbaikan tersebut dapat terselesaikan dengan sangat cepat, bukan berarti bahaya yang ditimbulkan spacequake itu kecil.

“Bukankah kelihatannya di daerah sekitar sini banyak terjadi spacequake? Terutama tahun lalu.”

“... hmm, kelihatannya begitu, huh. Mungkin sedikit terlalu cepat...”

Kotori bergumam, sambil menyandarkan tubuhnya ke lengan sofa.

“Terlalu cepat? Apa yang terlalu cepat?”

“Nnn..., gak kenaha-aha.”

Kali ini Shidou-lah yang memiringkan kepalanya.

Bukan karena apa yang Kotori katakan, namun karena setengah kalimatnya terdengar sedikit tidak jelas.

“...”

Diam-diam, ia memutari counter, dan berjalan menuju sisi sofa yang disandari Kotori.

Mungkin Kotori telah menyadarinya, selagi Shidou mendekat, dia perlahan-lahan memalingkan wajahnya.

“Kotori, coba lihat ke arah sini sebentar.”

“...”

“*Tei!*”[7]

"Guhh!"

Kotori memegangi kepala dengan tangannya, dan berbalik tersentak. Suara yang aneh terdengar dari dalam mulutnya.

Melihat apa yang ada di dalam mulutnya seperti yang ia kira, Shidou mengeluh pendek, “Sudah kuduga”.

Meskipun saat itu tepat sebelum sarapan, Kotori sudah menikmati permen favoritnya, Chupa Chups, di mulutnya.

“Hey! Aku sudah bilang kan jangan buka permen sebelum makan?”

"NNNnnn! NNNnnnnn!"

Ia berusaha merebut permennya dengan menarik stiknya, ia lihat Kotori mencoba melawan sambil memasang muka masam.

Wajah Shidou menegang sambil melihat-lihat tempat yang harus ia pukul, karena ia sebenarnya benar-benar tidak ingin memukul orang dengan wajah semanis itu.

“... benar-benar deh. Sebaiknya kau habiskan sarapanmu!”

Pada akhirnya Shidou-lah yang mengalah. Ia mengelus kepala Kotori, dan kembali ke dapur.

“Ohh! Aku sayang Onii-chan!”

Shidou membalasnya dengan ayunan tangan dan kembali pada pekerjaannya.

“... kalau dipikir-pikir, hari ini upacara pembukaan SMP-mu, kan?”

“Yap betul~”

“Berarti kau pulang saat makan siang, ya... Kotori, kau minta apa untuk makan siang?”

Setelah Kotori berpikir sejenak “Hmmmm”, ia menggelengkan kepala, lalu tiba-tiba berdiri.

"Deluxe Kids Plate!"

Itu adalah nama menu makan siang untuk anak-anak yang ditawarkan di restoran keluarga dekat situ.

Shidou menegakkan badan, dan setelah itu, menunduk menyesal.

“Toko ini tidak menyediakan itu.”

"Ehh~"

Sambil menghisap lolipop, Kotori menyahut dengan suara kecewa.

Shidou mengeluh keras-keras lalu mengangkat bahunya.

“Ya sudah lah, kesempatan ini cuma sekali-kali saja jadi ayo kita makan siang di luar.”

“OHHHH! Benarkah!?”

“Ya. Kalau begitu, kita bertemu di restoran keluarga yang biasa sepulang sekolah.”

Shidou berkata, dan Kotori mengusap-usap kedua tangannya dengan bersemangat.

“Jangan menarik kata-katamu! Janji! Kamu harus ada disana meskipun ada gempa bumi atau kebakaran atau terjadi spacequake atau bahkan kalau restoran itu diduduki teroris!”

“Tidak. Kalau ada teroris di sana kita tidak bisa makan.”

“Kamu harus ada di sana!”

“Iya, iya, aku tahu.”

Mendengar Shidou mengatakan hal itu, Kotori dengan bersemangat mengangkat kedua tangannya ke atas sambil berteriak “Whoooo~”

Shidou bahkan tidak pikir-pikir lagi apakah ia terlalu royal atau tidak. Yah, untuk hari ini saja.

Dari malam ini kedepannya mereka harus menyantap makanan di rumah untuk sementara, tapi hari ini adalah perayaan pembuka untuk mereka berdua. Berfoya-foya sedikit seharusnya tidak masalah.

Yah, lagipula menu lunch anak-anak seharga 780 yen tidak bisa dibilang foya-foya juga.

"Nnnnn..."

Shidou sedikit meregangkan badannya, dan membuka jendela kecil di dapur.

Langit sudah cerah. Sepertinya hari ini akan jadi hari yang menyenangkan.


[edit]
Bagian 2

Sekitar jam 8.15 pagi, Shidou sampai di gedung SMA-nya.

Setelah memeriksa daftar kelas yang ditempel di koridor, ia memasuki ruangan kelas di mana ia akan menghabiskan satu tahun berikutnya.

“Kelas 2-4, huh?”

Semenjak spacequake tiga puluh tahun lalu, daerah dari Selatan Tokyo sampai Prefektur Kanagawa—dengan kata lain, lahan kosong yang tercipta dari spacequake tersebut, telah dibangun ulang sebagai kota percobaan menggunakan berbagai metode baru.

Sekolah negeri di mana Shidou terdaftar, Raizen High School, adalah salah satu contohnya.

Dilengkapi dengan fasilitas yang dapat dibanggakan, sulit dipercaya bahwa sekolah negeri ini baru saja dibangun beberapa tahun lalu, maka kondisinya sendiri masih hampir sempurna. Tentu saja, sebagai sekolah yang dibangun di daerah bekas bencana, sekolah ini dilengkapi dengan shelter bawah tanah tipe terbaru.

Karena alasan-alasan inilah maka jumlah pendaftarnya cukup tinggi, bagi Shidou, yang mendaftar hanya dengan alasan “dekat dengan rumah”, ia perlu berusaha cukup keras.

"Mmmm...."

Sambil bergumam kecil, ia memeriksa keadaan kelas.

Masih ada sedikit waktu sebelum homeroom, tapi sudah ada banyak orang yang berkumpul.

Ada orang-orang yang gembira karena berada di kelas yang sama, ada yang duduk sendirian dan terlihat bosan, dan orang-orang dengan berbagai reaksi lainnya... tapi kelihatannya tidak ada wajah yang Shidou kenal.

Selagi Shidou menggerakan kepalanya untuk memeriksa bagan tempat duduk yang tergambar di papan tulis,

"—Itsuka Shidou."

Tiba-tiba, dari belakangnya, suara yang pelan berbicara dengan nada monoton.

"Huh...?"

Ia tidak mengenali suara itu. Penasaran, iapun berbalik.

Seorang gadis yang ramping berdiri di sana.

Gadis itu memiliki rambut yang pas mencapai bahu serta wajah seperti boneka.

Mungkin tidak ada orang yang lebih cocok dengan deskripsi ‘seperti boneka’ selain dirinya.

Meski dia terlihat berwibawa layaknya makhluk buatan yang dibuat sedemikian tepatnya, pada saat yang sama, wajahnya tidak menunjukkan emosi apapun.

“Eh...?”

Shidou melirik-lirik ke sekelilingnya, lalu memiringkan kepalanya.

“... aku?”

Ia tidak menemukan Itsuka Shidou lain di sekitarnya, jadi ia menunjuk dirinya sendiri.

“Ya.”

Tanpa ada emosi tertentu, gadis itu langsung menjawab, sedikit mengangguk ke arah Shidou.

“Ke, kenapa kau tahu namaku...?”

Shidou bertanya, dan gadis tersebut, seraya bingung, memiringkan kepalanya.

“Kamu tidak ingat?”

"... um."[8]

"Oh."

Shidou dengan ragu-ragu menjawab, dan gadis tersebut, kelihatannya sangat kecewa, memberikan komentar pendek dan berjalan ke arah bangku di dekat jendela.

Setelah itu, dia duduk di bangku tersebut, mengambil sesuatu yang terlihat seperti buku petunjuk teknis yang tebal, dan mulai membaca.

“Sebenarnya... apa yang terjadi?”

Shidou menggaruk wajahnya dan memberengut.

Bagaimanapun kelihatannya, sepertinya dia mengenal Shidou, tapi apa mereka pernah bertemu di suatu tempat sebelumnya?

”*Tou!*”

"Gefhuu!"

Ketika Shidou sedang tenggelam dalam pikirannya, ada yang menepuknya dengan keras di punggungnya.

“Apa yang kau lakukan, Tonomachi!?”

Ia langsung tahu siapa pelakunya, dan berteriak sambil mengelus punggungnya.

“Hey, kau kelihatannya cukup bersemangat, sexual beast Itsuka.”

Teman Shidou, Tonomachi Hiroto, sebelum menunjukkan rasa senangnya karena berada di kelas yang sama, seakan memamerkan rambutnya yang dicat dan tubuhnya yang berotot, melipat tangan dan sedikit menekukkan tubuhnya ke belakang sambil tertawa.

"... Sex... Apa kau bilang?"

“Sexual beast, dasar jahanam. Aku baru sebentar tidak berjumpa denganmu dan kau sudah cukup jantan rupanya. Sejak kapan kau jadi dekat dengan Tobiichi, bagaimana caranya huh?”

Sambil melilitkan lengannya ke sekitar leher Shidou dengan menyeringai, Tonomachi bertanya.

“Tobiichi...? Siapa itu?”

“Ayolah, jangan berlagak bodoh. Baru saja kalian asyik berbincang-bincang, iya kan?”

Tonomachi mengarahkan dagunya ke bangku di dekat jendela.

Disana, duduk gadis tadi.

Sepertinya dia menyadari tatapan mereka, gadis itu melirik dari balik buku, melihat ke arah mereka.

"..."

Nafas Shidou tertahan di lehernya selagi ia dengan canggung memalingkan matanya.

Sebaliknya, Tonomachi tersenyum dan melambaikan tangan dengan sok kenal.

“...”

Gadis itu, tanpa menunjukkan reaksi tertentu, mengarahkan pandangannya kembali ke buku di tangannya.

“Nah, lihat, dia selalu seperti itu. Dari semua gadis, dia yang paling susah, dia sebanding dengan dinginnya tanah di kutub, atau Perang Dingin atau Mahyadedosu[9]. Bagaimana kau bisa membuat dia terbuka?”

“Huh...? Ap-Apa yang kau bicarakan?”

“Hah, kau benar-benar tidak tahu?”

“... hmm, apa dia benar-benar ada di kelas kita tahun lalu?”

Setelah Shidou mengatakan ini, Tonomachi melipat tangannya dengan pose “Aku tidak percaya”, memasang ekspresi terkejut. Dia seseorang yang suka meniru reaksi orang Barat.

“Ayolah man, dia Tobiichi, Tobiichi Origami. Si super-jenius yang dibangga-banggakan sekolah kita. Kau tak pernah mendengar itu?”

“Tidak, ini pertama kalinya aku mendengarnya tapi... dia benar-benar sehebat itu?”

“‘Hebat’ saja tidak dapat mengutarakan dirinya. Nilainya selalu berada di peringkat teratas, dan pada ujian Try Out baru-baru ini dia mendapat hasil yang gila dan langsung melesat ke peringkat teratas se-nasional.”

“Haaah? Kenapa orang seperti itu ada di sekolah negeri?”

“Tidak tahu. Mungkin kondisi keluarga?

Mengangkat bahunya tinggi-tinggi, Tonomachi lanjut berbicara.

“Tambah lagi, itu belum semuanya. Nilai mata pelajaran Olahraga-nya juga superior, dan selain itu dia juga cantik. Di Best Thirteen Most Wanted Girlfriends Ranking tahun lalu dia berakhir di peringkat ketiga seingatku. Bukannya kau melihatnya?”

“Aku bahkan tidak tahu ada yang semacam itu. Lagipula, best thirteen? Kenapa angkanya aneh begitu?”

“Karena anak yang menyelenggarakannya adalah rank ketiga-belas.”

“... aaah.”

Shidou tertawa pelan.

“Ngomong-ngomong, Most Wanted Boyfriends Ranking sampai best 358 lho.”

“Sebanyak itu!? Semakin kebawah semakin parah kan? Apa penyelenggaranya yang menetapkan angka itu juga?”

“Ahh. Orang itu tidak kenal menyerah.”

“Kau peringkat berapa Tonomachi?”

“Nomor 358”

“Kau penyelenggaranya!?”

“Alasan kenapa aku bisa mendapat peringkat itu: ‘Sepertinya dia terlalu bergairah’, ‘Dia terlalu berambut’, dan ‘ujung kakinya bau’.”

“Sudah kuduga, itu rank terparah!”

“Yah, dibawah itu adalah untuk orang-orang yang tidak ada vote-nya. Paling tidak dengan Minus Point aku berhasil memenangkan kategori tersebut.”

“Kau terlalu memaksa! Dengan rank seperti itu, akan lebih baik kalau kau menyerah.”

“Jangan khawatir Itsuka. Kau masuk peringkat dengan nama Mr. Anonymous dan mendapat satu suara dengan peringkat ke-52.”

“Tanggapanmu salah!”

“Yah dengan alasan-alasannya: ‘dia tidak terlihat tertarik dengan wanita’, dan ‘sejujurnya, dia kelihatan seperti seorang homo’.”

“Itu palu besi kematian berupa fitnah yang tidak masuk akal!”

“Tenanglah. Dalam Fujoshi[10] Selected Best Couple, kau dan aku berhasil menempati top ranking sebagai pasangan.”

“Aku sama sekali tidak senang dengan itu semuaaaaa!”

Shidou berteriak. Pada dasarnya ia sedikit khawatir karena menjadi bagian dari pasangan tersebut.

Namun, kelihatannya Tonomachi tidak peduli sama sekali (atau malah, dia kelihatannya sudah terbiasa dengan hal itu), lalu dia melipat tangannya dan kembali ke topik semula.

“Yah bagaimanapun, tidak berlebihan untuk bilang kalau dia adalah orang paling terkenal di sekolah. Itsuka, keacuh-tak-acuhanmu bahkan mengagetkan Tonomachi yang hebat ini.”

“Kau sedang menirukan karakter apa, hah?”

Ketika Shidou mengatakan ini, bel peringatan yang ia sudah terbiasa mendengarnya sejak tahun pertamanya berbunyi.

"Ups."

Kalau dipikir-pikir, ia belum memastikan tempat duduknya.

Shidou mengikuti susunan tempat duduk yang tertera di papan, dan menaruh tasnya di sebuah bangku dua baris dari jendela.

Lalu, ia sadar.

"... ah"

Seakan dipermainkan takdir, tempat duduk Shidou bersampingan dengan tempat duduk sang peringkat teratas.

Tobiichi Origami telah menutup dan memasukan bukunya ke dalam meja sebelum bel peringatan selesai berbunyi.

Dia lalu duduk menatap lurus kedepan, dengan postur yang seindah mungkin seakan telah terukur dengan penggaris.

"..."

Ia merasa sedikit canggung, Shidou memalingkan matanya ke arah papan tulis seperti yang dilakukan Origami.

Seakan menunggu timing tersebut, pintu kelas terbuka dengan suara berderak. Dari sana seorang wanita pendek dengan kacamata berbingkai tipis muncul dan berjalan ke belakang meja guru.

Di sekeliling, murid-murid berbisik heboh.

“Ternyata Tama-chan...”

“Ah, Tama-chan.”

“Yang benar? Yeahhh!”

—Singkatnya, semuanya membicarakan hal-hal yang baik.

“Baiklah, selamat pagi semuanya. Untuk satu tahun kedepannya, saya akan menjadi guru homeroom kalian, nama saya Okamine Tamae.”

Guru IPS, Okamine Tamae—panggilannya Tama-chan,—berbicara lambat dan membungkuk hormat. Mungkin ukurannya kurang pas, kacamatanya sedikit tergelincir, dan dia buru-buru menahannya dengan kedua tangan.

Wajahnya yang kekanak-kanakan dan postur kecilnya yang bahkan tidak lolos untuk menempati generasi yang sama dengan murid-muridnya, ditambah tingkahnya yang santai, telah meraih ketenaran yang luar biasa di kalangan murid.

"...?"

Di antara murid-murid yang penuh gairah, ekspresi Shidou menjadi kaku.

Duduk di samping kiri Shidou adalah Origami, yang sedang melihat ke arah Shidou dengan seksama.

"..."

Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Shidou buru-buru memalingkan pandangan matanya.

Kenapa dia menatap Shidou—tidak, bukan berarti dia sedang melihatnya, bisa jadi sesuatu dari balik dirinya, tapi untuk saat itu Shidou tidak bisa menenangkan diri.

“... a, ap-apa yang sebenarnya sedang terjadi...?”

Ia diam-diam bergumam, dengan tetesan keringat mengaliri wajahnya.





Setelah itu, kurang lebih tiga jam telah berlalu.

“Itsuka~. Kau tidak punya kerjaan, kan? Mau cari makanan?”

Upacara pembukaan telah berakhir, dan ketika para murid sedang menyelesaikan persiapan mereka dan meninggalkan ruangan kelas, Tonomachi, dengan tasnya yang diselempangkan di bahu, memulai percakapan.

Selain pada saat test, sekolah jarang berakhir pada pagi hari. Di sana-sini, beberapa kelompok teman sedang membahas kemana akan pergi untuk makan siang.

Shidou hampir saja bermaksud mengangguk, namun “ah” ia berhenti.

“Maaf. Aku sudah punya rencana hari ini.”

“APHA? Gadis kah?”

“Ahhh, yah... iya.”

"Tidak mungkin!!"

Tonomachi membuat gerakan membentuk V dengan tangannya sambil mengangkat satu lutut, membuat reaksi mirip Glico[11].

“Apa yang sebenarnya sudah terjadi libur musim semi kemarin!? Kau masih belum puas setelah berhasil berbicara akrab dengan Tobiichi, bahkan sekarang janji untuk makan siang dengan seorang gadis!? Bukankah kita sudah bersumpah untuk menjadi Penyihir[12] bersama-sama?”

“Tidak, aku tidak ingat sumpah semacam itu... lagipula, cuma dengan Kotori.”

Jawab Shidou, dan Tonomachi menghela nafas lega.

“Dasar, jangan membuatku kaget!”

“Kau yang tiba-tiba mengambil kesimpulan sendiri.”

“Meh, kalau Kotori-chan berarti tidak masalah. Aku boleh ikut?”

“Mm? Ahh, kupikir oke saja...”

Tepat saat Shidou selesai menjawab, Tonomachi menempatkan sikunya pada meja Shidou, dan berbicara dalam suara rendah.

“Hey hey, Kotori-chan sekarang kelas 2 SMP, kan? Tidak apa-apa kan kalau dia mendapat pacar atau semacam itu sekarang?”

"Huh?"

“Uhm, aku tidak punya maksud tersembunyi dibalik ini tapi, apa pendapat Kotori-chan mengenai laki-laki sekitar 3 tahun seniornya?”

“... sebenarnya, lupakan. Jangan berani-berani kau coba datang.”

Shidou menyipitkan matanya, dan dengan jengkel mendorong wajah Tonomachi yang sedang mendekat.

“Haha. Lagipula, aku tidak sekurang-ajar itu, sampai mengganggu persaudaraan kalian kalian yang menyenangkan. Aku mencoba untuk bermain sesuai aturan.”

“Kau selalu bicara terlalu banyak dari yang seharusnya kau ucapkan.”

Memegangi pipinya, Tonomachi memasang tampang yang tak diduga sambil berbicara.

“Tapi hey, tidakkah kau pikir Kotori-chan super cantik? Bisa tinggal di bawah atap yang sama dengannya benar-benar luar biasa.”

“Kalau kau benar-benar punya imouto, kurasa kau akan berubah pendapat.”

“Ah... Kau seringkali mendengar kabar seperti itu. Jadi benar kalau orang-orang dengan imouto tidak punya fetish[13] seperti itu?”

“Ya, mereka bukan gadis. Mereka cuma makhluk yang disebut ‘imouto’.”

Shidou menekankan kuat hal itu, dan Tonomachi tersenyum patuh.

“Ternyata benar-benar begitu, huh?”

“Begitulah. Kalau kau coba memikirkan sesuatu yang benar-benar tidak seperti seorang gadis, mungkin kau sedang memikirkan seorang imouto.”

“Kalau begitu, kakak perempuan?”

“...Onnashi?”[14]

“Wooow, kota khusus perempuan!”

Sambil tertawa, Tonomachi merespon.

—Saat itulah.


UUUUUUUuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu—————


"Huh!?"

Jendela-jendela di ruangan kelas bergemeretak diiringi suara sirene yang tidak enak didengar yang bergaung di seluruh jalanan.

“Ap-Apa yang terjadi?”

Tonomachi membuka jendela dan melihat keluar. Dikejutkan oleh bunyi sirene tersebut, burung-burung gagak yang tak terhitung jumlahnya terbang ke langit.

Murid-murid yang tinggal di ruangan kelas semuanya menghentikan pembicaraan mereka dan menatap, dengan mata terbelalak.

Mengikuti sirene tersebut, suara mekanis yang memiliki jeda setelah setiap kata, mungkin agar lebih mudah dimengerti, berbunyi.

“Ini bukan, latihan. Ini bukan, latihan. Gempa pendahulu, telah terdeteksi. Diperkirakan, terjadinya, Spacequake. Penduduk sekitar, harap bergerak, ke shelter terdekat, secepatnya. Diulang kembali—"

Seketika itu, ruangan yang diam membatu terisi dengan suara terkejut para murid.

—Peringatan Spacequake.

Dugaan mereka semua telah dipastikan.

"Oi oi... Serius?"

Tonomachi menyuarakan dengan suara kering sambil bercururan keringat.

Namun, kalau berbicara mengenai ketegangan dan kegelisahan, Shidou dan Tonomachi beserta murid-murid lainnya di ruangan kelas masih dapat dikatakan relatif tenang.

Paling tidak, tak ada murid yang panik.

Setelah kota ini rusak parah disebabkan Spacequake tiga puluh tahun lalu, anak-anak seperti Shidou telah dilatih berkala dalam latihan evakuasi sejak taman kanak-kanak.

Tambah lagi, ini adalah SMA. Terdapat shelter bawah tanah yang dapat memuat seluruh murid.

“Shelter-nya ada di sana. Kalau kita tetap tenang dan berlindung di sana, semua akan baik-baik saja.”

“Be-benar, kau benar.”

Tonomachi mengangguk pada kata-kata Shidou.

Secepat mungkin namun tanpa berlari, mereka meninggalkan ruangan kelas.

Koridor telah dipenuhi murid-murid, yang sedang membentuk barisan menuju shelter.

—Shidou mengernyitkan alis.

Ada satu orang yang bergerak berlawanan arah dari barisan tersebut—seorang siswi sedang berlari menuju pintu masuk.

“Tobiichi...?”

Benar, melesat melewati lorong dengan roknya yang terkepak-kepak adalah sang Tobiichi Origami.

“Hey! Apa yang kau lakukan! Shelter-nya ada di arah yang berlawanan—”

“Tidak apa-apa.”

Origami berhenti sejenak, mengatakan itu saja, dan sekali lagi melesat.

“Tidak apa-apa... apa yang...?”

Kebingungan, Shidou membalikkan kepala dan memasuki barisan murid bersama Tonomachi.

Ia sedikit mengkhawatirkan Origami, tapi mungkin hanya sesuatu yang ketinggalan dan dia pergi mengambilnya.

Kenyataannya, meskipun peringatan telah dibunyikan, tidak berarti spacequake akan langsung terjadi. Kalau dia cepat kembali maka dia akan baik-baik saja.

“T-Tolong tenang! Semuanya, baik-baik saja, jadi pelan-pelan! Ingat ‘okashi’, O-Ka-Shi! Osanai, kakenai, sharekoube[15].

Dari depan terdengar gaung suara Tamae, yang sedang mengarahkan para murid.

Di saat bersamaan, tawa cekikikan kecil terdengar dari para murid.

“... entah kenapa, melihat seseorang yang lebih gugup dariku membuatku lebih tenang.”

“Ahh, sepertinya aku mengerti yang kau maksud.”

Shidou tertawa ringan, dan Tonomachi menjawab dengan ekspresi serupa.

Dihadapkan dengan guru yang kelihatannya tak bisa diandalkan seperti Tama-chan, bukannya membangkitkan kegelisahan, kenyataannya ketegangan di kalangan para murid telah menurun.

Dan kemudian, Shidou mengingat sesuatu, mencari-cari di kantongnya dan mengambil handphone-nya.

“Hm? Ada apa, Itsuka?”

“Tidak. S’bentar dulu.”

Sambil menghindari pertanyaan tersebut, ia memilih nama ‘Itsuka Kotori’ dari call history dan menghubunginya.

Namun—tidak tersambung. Setiap kali ia mencoba, hasilnya sama saja.

“... sial. Apa dia berhasil evakuasi?”

Kalau dia masih belum meninggalkan sekolah mungkin akan baik-baik saja.

Masalahnya bisa jadi dia sudah meninggalkan sekolah dan sedang berangkat menuju restoran keluarga.

Sebenarnya, pasti ada shelter umum di dekatnya, jadi seharusnya tidak akan ada masalah... tapi untuk alasan tertentu Shidou tidak dapat mengabaikan firasat buruknya.

Entah mengapa dalam benaknya tiba-tiba muncul bayangan sosok Kotori yang sedang menunggu Shidou seperti anak anjing penurut, tanpa mengindahkan kenyataan bahwa peringatan telah dibunyikan.

Di dalam kepalanya, kata-kata Kotori, “Janji!” berputar-putar dan bergema.

“M-memang kami sudah berjanji pasti akan bertemu di sana biarpun Spacequake sekalipun terjadi, tapi... dia sekalipun tidak mungkin sebodoh itu... Oh, iya, aku punya itu.”

Handphone Kotori seharusnya punya layanan GPS yang terpasang.

Mengutak-atik Handphone-nya, ia menampilkan peta kota di layar, di mana terlihat ikon penanda berwarna merah.

“...”

Setelah melihatnya, tenggorokan Shidou terasa tersumbat.

Ikon yang menunjukkan lokasi Kotori tepat berada di depan restoran keluarga yang dijanjikan.

“Idiot yang satu itu...”

Dengan sumpah serapah itu ia menutup cell phone-nya tanpa mengembalikan layar ke keadaan semula, dan keluar dari barisan murid.

“O-Oi, kau mau ke mana, Itsuka!?”

“Maaf! Aku lupa sesuatu! Kau duluan saja!”

Menjawab Tonomachi ketika menghadap arah berlawanan, ia berlari menuju pintu masuk melawan alur barisan.

Setelah itu Shidou buru-buru mengganti sepatunya dan, terlihat hampir jatuh kedepan, ia melesat keluar.

Melewati gerbang sekolah, ia jatuh menuruni bukit di depan sekolah.

“... kalau sudah begini, seharusnya kita evakuasi seperti biasa saja...!”

Berlari sekencang yang ia bisa, Shidou berteriak keras.

Terhampar di pandangan Shidou sebuah pemandangan yang sangat menyeramkan.

Jalan raya tanpa mobil yang bergerak, sebuah kota tanpa adanya tanda-tanda manusia.

Di jalanan, di taman, bahkan di toserba, tidak ada satu orangpun yang tertinggal.

Masih tertinggal jejak keberadaan orang-orang yang tadinya ada di sini sampai beberapa waktu yang lalu, namun sosok nyata orang-orang tersebut telah menghilang. Bagaikan adegan dari film horor.

Semenjak bencana tiga puluh tahun lalu, kota Tenguu inilah yang dengan hati-hati dibangun ulang sembari menangani spacequake dalam kegelisahan. Jangankan tempat umum, bahkan persentase keluarga biasa yang memiliki shelter adalah yang tertinggi di seluruh negeri.

Karena spacequake yang sering terjadi belakangan ini, orang-orang dengan cepat ber-evakuasi.

Tapi meski begitu...

“Kenapa si idiot itu bersikeras menunggu di sana...!”

Ia melepaskan teriakan, lalu membuka handphone-nya masih sambil berlari.

Ikon yang menunjukan posisi Kotori tetap berada di depan restoran keluarga itu.

Sambil memutuskan bahwa hukuman untuk Kotori adalah serentetan sentilan jari di dahi, ia lanjut menggerakkan kakinya dengan kecepatan tinggi menuju restoran keluarga tersebut.

Ia tidak mengatur nafasnya atau semacam itu. Ia hanya berlari tanpa henti menuju restoran keluarga secepat yang ia bisa.

Kakinya sakit, dan ujung-ujung jarinya mulai mati rasa.

Kepalanya terasa pusing, tenggorokannya mulai terasa lengket, dan suara gemeretak dapat terdengar dari dalam mulutnya.

Akan tetapi, Shidou tidak berhenti. Hal-hal seperti bahaya atau keletihan tidak menemukan jalan menuju pikirannya, yang telah terisi dengan satu pikiran akan keinginan untuk tiba ke tempat Kotori berada.

Tapi—

“...?”

Saat berlari, Shidou melirik ke atas. Ia pikir ia melihat sesuatu yang bergerak di ujung penglihatannya.

“Apa... benda-benda itu...”

Shidou mengernyitkan alisnya.

Ada tiga... atau mungkin empat. Di langit, benda-benda yang terlihat seperti manusia sedang melayang.

Tapi, Shidou langsung berhenti mempedulikan hal itu.

Alasannya—

“Uwahhhh...!?”

Shidou secara naluriah melindungi matanya.

Jalanan di depannya tiba-tiba diselimuti cahaya menyilaukan.

Yang diikuti oleh ledakan yang memekakkan telinga, dan gelombang udara yang dahsyat menerpa Shidou.

“Ap—"

Shidou secara refleks menutupi wajah dengan tangannya dan menambah kekuatan pada kakinya namun itu sia-sia.

Tekanan angin bagaikan topan raksasa meniupnya sehingga kehilangan keseimbangan dan ia terjatuh ke belakang.

“Ap... Apa yang terjadi...?”

Selagi mengusap dan mengedipkan matanya, ia berusaha menopang tubuhnya untuk bangkit.

“—Huh—?”

Melihat pemandangan yang terbentang di seluruh pandangannya, Shidou melepaskan suara penuh keterkejutan.

Bagaimanapun juga, jalanan tepat di hadapannya sesaat yang lalu, dalam waktu yang singkat ketika Shidou menutup matanya—

tanpa sisa sedikitpun, telah ‘lenyap’.

“Ap-apa ini, apa yang sebenarnya terjadi, ini...”

Ia bergumam, kebingungan.

Tidak peduli metafora apapun yang kau gunakan, itu tidak akan menjadi sebuah lelucon.

Seakan-akan sebuah meteorit baru saja jatuh mendarat.

Tidak, lebih tepatnya, seakan-akan semua yang ada di permukaan tanah telah lenyap sepenuhnya.

Jalanan di hadapannya telah terkorek keluar menyerupai bentuk mangkok dangkal.

Dan, di pinggiran jalan yang telah menjadi seperti sebuah kawah—

Ada sesuatu seperti bongkahan logam yang muncul ke permukaan.

“Apa...?”

Karena pengaruh jarak, ia tidak bisa mengamati detail kecilnya tapi—ia melihat sesuatu yang menyerupai bentuk singgasana yang biasa diduduki raja dalam game-game RPG.

Namun, bukan itu yang penting.

Di sana ada gadis yang memakai gaun aneh, yang kelihatannya sedang berdiri di singgasana dengan kakinya di atas sandaran lengan.

“Gadis itu—kenapa dia ada di tempat seperti itu?”

Ia hanya dapat melihat samar-samar, tapi ia dapat memastikan rambut hitam panjangnya dan rok yang memancarkan sinar misterius. Ia sepertinya tidak salah memastikannya sebagai seorang gadis.

Gadis itu sambil lalu mengamati lahan tersebut, lalu tiba-tiba berbalik menghadap Shidou.

“Un...?”

Dia menyadari keberadaan Shidou... Mungkin. Masih terlalu jauh jadi Shidou tidak bisa memastikannya.

Selagi Shidou ragu-ragu akan hal tersebut, gadis itu membuat gerakan lebih lanjut.

Dengan gerakan mengayun, dia terlihat mengambil pegangan yang terlihat dari balik singgasana, dan perlahan-lahan menariknya keluar.

Benda itu adalah—dengan bilah yang lebar, sebuah pedang besar.

Menyemburkan sinar bagaikan ilusi layaknya pelangi, atau layaknya bintang, sebuah pedang yang aneh.

Gadis itu mengayunkan pedangnya, dan jejak jalur yang dilaluinya meninggalkan sedikit berkas cahaya.

Dan kemudian—

“Eh...!?”

Gadis itu menghadap Shidou, dan disertai suara gemuruh, mengayunkan pedang itu secara horizontal.

Ia instan merendahkan kepalanya. Tidak, lebih tepatnya, lengan Shidou, yang tadinya menopang tubuhnya, kehilangan kekuatan, dan sebagai hasilnya membuat posisi bagian atas tubuhnya terjatuh.

“Ap—”

Pedang tersebut mengikuti jalur yang melewati tempat dimana kepala Shidou tadinya berada.

Tentu saja, itu bukan jarak yang secara fisik dapat dijangkau pedang tersebut.

Namun, hal tersebut benar-benar—

“...Haaah—”

Dengan mata terbuka lebar, Shidou membalikkan kepalanya ke belakang.

Rumah-rumah, pertokoan, pohon-pohon di sisi jalan, marka jalan dan semuanya yang ada di belakang Shidou dalam sekejap diratakan pada ketinggian yang sama.

Sedetik kemudian, bergema suara kehancuran bagaikan gemuruh guntur dari jauh.

“Hiiii...!?”

Hal tersebut telah berada di luar pemahaman Shidou. Gemetaran, jantungnya terasa sesak.

—Apa maksud semua ini?

Satu-satunya hal yang ia mengerti adalah jika saja kepalanya tidak merendah barusan, sekarang ini ia sudah senasib dengan pemandangan di belakangnya, terpotong rata.

“Ja-jangan bercanda...!”

Bagaikan menyeret tubuh yang seakan terpotong di pinggangnya, Shidou merayap mundur. Secepat mungkin, sejauh mungkin, aku harus meninggalkan tempat ini...!

Akan tetapi.

“—Kau juga... ya”

“...!?”

Suara penuh kejemuan terdengar dari atas kepalanya.

Pandangannya, yang satu sesaat lebih lambat, mengikuti arah pikirannya.

Di depan matanya berdiri seorang gadis yang sampai sesaat yang lalu tidak ada di sana.

Benar, gadis yang sama dengan yang berdiri di tengah-tengah kawah barusan.

“Ah—”

Tanpa sengaja, Shidou bersuara.

Dia kira-kira seumur Shidou, atau mungkin sedikit lebih muda.

Dibalik rambut hitamnya yang mencapai lutut adalah wajah yang memiliki baik kecantikan dan wibawa.

Di tengahnya, sepasang mata yang memancarkan sinar misterius, hampir seperti kristal-kristal yang merefleksikan berbagai sinar berwarna ke segala arah.

Dia berpakaian aneh sekali. Menyerupai bentuk seperti gaun seorang putri, terbuat dengan material yang tidak jelas apakah dari kain atau logam. Tambah lagi, celah jahitan, bagian dalam, rok dan sebagainya, tersusun dari lapisan cahaya misterius yang tidak terlihat seperti materi fisik.

Dan di tangan itu, dia sedang memegang pedang besar yang panjangnya kira-kira menyamai tingginya sendiri.

Kejanggalan situasi tersebut.

Keanehan penampilannya.

Keunikan dari keberadaannya.

Yang manapun dari hal-hal tersebut sudah cukup untuk menarik perhatian Shidou.

Tapi.

Ya, akan tetapi.

Yang mencuri pandangan Shidou tidak mengandung ketidak-murnian seperti hal-hal tersebut.

“——”

Seketika itu.

Rasa takut akan kematian, bahkan kebutuhan untuk bernafas, telah ia lupakan, selagi matanya terpaku pada sang gadis.

Seluar-biasa itulah kiranya.

Gadis tersebut, sangat luar biasa... cantik.

"—Siapa..."

Terkesima, Shidou berbicara untuk pertama kalinya.

Meski kelancanganku ini akan membuat suara dan mataku hancur, itu pikirnya.

Gadis itu perlahan mengalihkan pandangannya turun.

"... namamu?"

Suaranya, memuat pertanyaan tersebut dari lubuk hatinya, bergema di udara.

Namun.

"—Aku tidak punya hal semacam itu"

Dengan tatapan sedih, gadis itu menjawab.

“——”

Setelah itulah. Mata Shidou dan sang gadis bertemu untuk pertama kalinya.

Pada saat bersamaan, sang gadis tanpa nama, dengan kemurungan yang sangat, sambil membuat ekspresi yang seakan ingin menangis, menarik pedangnya lagi dengan suara ‘kachiri’.

“Tunggu, tunggu, tunggu!”

Karena bunyi kecil tersebut, gemetarannya telah berlanjut. Shidou memekik putus asa.

Tapi gadis tersebut hanya melemparkan pandangan kebingungan pada Shidou.

“... apa?”

“A-Apa yang kau rencanakan...!?”

“Tentu saja—membunuhmu secepatnya."

Mendengar sang gadis menjawab dengan sangat datar, wajah Shidou membiru.

“Ke-Kenapa...!”

“Kenapa...? Bukannya sudah jelas?”

Dengan wajah yang penuh kejemuan, sang gadis melanjutkan.

“—Lagipula, bukannya kau datang untuk membunuhku juga?”

“Huh...?”

Diberikan jawaban yang tak diduganya, mulut Shidou terbuka lebar.

“... tidak mungkin aku akan melakukan itu.”

“——Apa?”

Gadis itu menatap Shidou dengan campuran keterkejutan, kecurigaan, dan kebingungan.

Namun, sang gadis seketika itu menyipitkan mata dan berpaling dari Shidou, menengadah ke arah langit.

Layaknya dipandu olehnya, Shidou juga berbalik melihat ke atas—

“Aap...!?”

Matanya terbelalak lebih lebar dari sebelumnya, nafasnya tersendat di tenggorokannya.

Bagaimanapun juga, ada beberapa manusia yang berpakaian aneh sedang terbang di langit—dan tambah lagi, dari senjata-senjata di tangan mereka, sejumlah besar sesuatu yang mirip misil diluncurkan ke arah Shidou dan sang gadis.

“W-Waaaaaaaaaah!?”

Ia berteriak secara naluriah.

Namun—bahkan setelah beberapa detik telah berlalu, Shidou masih memegang kesadarannya.

“Eh...?”

Tercengang, suaranya terlepas.

Misil yang diluncurkan dari angkasa melayang tanpa bergerak di udara beberapa meter di atas gadis tersebut, seperti sedang dipegangi oleh tangan-tangan tak terlihat.

Gadis itu dengan jengkel menghela nafas.

“... hal seperti ini sia-sia saja, kenapa mereka tidak pernah bisa belajar.”

Seraya berkata, sang gadis mengangkat tangan yang tidak memegang pedang, dan mengepalkannya kuat-kuat.

Saat dirinya melakukan hal ini, misil yang tak terhitung jumlahnya remuk, seakan diremas dengan paksa, dan meledak di tempat mereka berada.

Bahkan jangkauan ledakkannya sangat kecil. Seakan seluruh daya hancurnya telah tersedot ke dalam.

Ia entah bagaimana dapat mengerti kekalutan yang dialami orang-orang yang melayang di langit tersebut.

Namun, mereka tidak menghentikan serangan mereka. Satu demi satu, misil-misil ditembakkan.

“—Hmpf”

Gadis itu mengeluh pelan lagi, memasang wajah yang seperti akan meneteskan air mata kapan saja.

Ekspresi wajah yang sama dengan pada saat dirinya mengarahkan pedang pada Shidou sebelumnya.

“——”

Melihat ekspresi tersebut, Shidou merasa jantungnya berdebar bahkan lebih kuat daripada saat ia hampir kehilangan nyawanya tadi.

Benar-benar pemandangan yang sangat aneh.

Siapa gadis itu, ia tidak tahu. Siapa orang-orang di langit itu, ia juga tidak tahu.

Akan tetapi, fakta bahwa gadis tersebut lebih kuat dari orang-orang yang melayang di udara itu, ia mengerti sejauh itu.

Karena itulah ia samar-samar memikirkan pertanyaan ini:

Dia adalah yang terkuat.

—Lalu kenapa dia memasang ekspresi seperti itu?

"... lenyap, lenyap. Semuanya dan segalanya... Lenyaplah...!"

Sambil mengatakan itu, dia menghunuskan pedang yang memancarkan sinar yang sama misteriusnya dengan matanya, ke langit.

Penuh keletihan, penuh kesedihan, dengan sembarangan dia mengayunkan pedang.

Untuk sesaat—angin berhembus.

“...w-wah...!”

Gelombang udara yang dahsyat menyerbu daerah tersebut, diiringi tebasan yang melayang menuju langit sesuai jejak ayunan pedang.

Orang-orang yang melayang di udara buru-buru menghindarinya, dan mundur dari posisi mereka.

Namun pada momen berikutnya, dari arah lain, sebuah sorotan cahaya laser dengan tenaga luar biasa ditembakkan ke arah sang gadis.

“...!”

Ia refleks menutupi matanya.

Seperti yang diduga, sinar laser tersebut seperti mengenai dinding tak terlihat di udara di atas sang gadis dan terhenti. Bagaikan kembang api menyala di langit malam, sinar tersebut tersebar ke seluruh arah, berkilau dengan indahnya.

Namun, sebagai kelanjutan dari sinar laser tersebut, sesuatu mendarat di belakang Shidou.

“A-Apa yang sebenarnya terjadi...”

Sejak beberapa saat yang lalu, Shidou masih belum bisa mengerti semua yang sedang terjadi.

Ia merasa seperti sedang melihat lamunan yang buruk.

Akan tetapi—setelah melihat sosok yang baru saja mendarat, tubuh Shidou menjadi kaku.

Sosok yang sedang memakai mesin, atau semacamnya.

Dari atas sampai bawah terlapisi body suit yang asing adalah seorang gadis.

Dia membawa mesin thruster besar di punggungnya, dan sebuah senjata dengan bentuk seperti tas golf di kedua tangannya.

Alasan mengapa tubuh Shidou diam membeku adalah sederhana. Ia mengenali gadis itu.

“Tobiichi—Origami...?”

Ia menggumamkan nama yang diberitahukan Tonomachi padanya pagi ini.

Gadis dengan penampilan mekanik yang terlalu berlebihan itu adalah teman sekelasnya, Tobiichi Origami.

Origami mendelik sekilas ke Shidou.

“Itsuka Shidou...?”

Sebagai balasannya, dia memanggil nama Shidou.

Meskipun dirinya terkejut, ekspresinya tidak berubah. Namun, hanya sedikit saja, suaranya mengandung nada kebingungan.

“... huh? ap-Apa-apaan pakaian itu—”

Ia sebenarnya sadar kalau itu pertanyaan yang bodoh, tapi saat itu ia sudah terlanjur mengatakannya.

Kewalahan dengan semua yang telah terjadi, ia sudah tidak tahu apa yang harus dikhawatirkannya.

Akan tetapi, Tobiichi langsung memalingkan pandangan dari Shidou, menuju sang gadis bergaun.

Bagaimanapun juga,

“—Fmph”

Gadis tersebut mengayunkan pedangnya dengan cara yang sama seperti sebelumnya ke arah Origami.

Origami dengan cepat menyentak tanah, menghindari bidang dimana pedang tersebut diayunkan, dan mendekati gadis itu dengan kecepatan menakjubkan.

Dari ujung depan senjata di tangan Origami, muncul sebuah pedang yang terbuat dari cahaya.

Sasarannya adalah sang gadis, Origami mengayunkannya dengan seluruh kekuatan.

“—Ugh”

Gadis tersebut mengernyitkan alisnya sedikit, lalu menghentikan serangan tersebut dengan pedang di tangannya.

—Pada saat itu.

Dari titik di mana sang gadis dan Tobiichi bersilang pedang, terbentuk gelombang udara yang dahsyat.

“Wa-W-Waaaahhhhhhhh!?”

Dengan teriakan memilukan, ia membungkukkan tubuh dan entah bagaimana berhasil menahannya.

Origami ditangkis, lalu perlahan-lahan keduanya berpisah jarak dan saling melotot dengan senjata mereka yang teracu.


“...”

“...”

Menghimpit Shidou di tengah-tengahnya, tatapan tajam dari si gadis misterius dan Origami saling bertemu.

Saat itu dapat dikatakan situasi yang kritis. Mereka sedang berada pada kondisi dimana pemicu sekecil apapun dapat membuat pertarungan tersebut dilanjutkan kembali.

“...”

Shidou di sisi lain merasa tidak tenang.

Dengan keringat yang terbentuk di dahinya, dan pikiran untuk melarikan diri dari tempat ini, ia perlahan menyeret tubuhnya secara horizontal di atas permukaan tanah.

Namun, pada momen tersebut, tiba-tiba handphone di dalam sakunya berbunyi dengan melodi cemerlang.

“——!”

“——!”

Dan hal tersebut menjadi pemicunya.

Sang gadis dan Origami menyentak tanah di saat hampir bersamaan, berbentrokan tepat di depan Shidou.

“Gyaaaaaaah!”

Menghadapi tekanan angin yang terlalu kuat, Shidou tanpa ampun terlempar, dan pingsan setelah membentur dinding.


[edit]
Bagian 3

“—Bagaimana situasinya?”

Mengenakan kemeja dan seragam militer berwarna merah membara yang tergantung di bahunya seperti jubah, seorang gadis muda memasuki bridge dan menanyakan pertanyaan tersebut.

“Komandan”

Laki-laki yang sedang berdiri di samping kursi komandan memberi salam hormat yang sama sempurnanya dengan di buku kemiliteran.

Gadis yang dipanggil komandan tersebut hanya melihat sepintas, lalu menendang lutut sang lelaki.

“Oww!”

“Lupakan salamnya dan jelaskan situasinya.”

Sambil mengatakan hal itu pada sang lelaki yang memasang ekspresi kesakitan, atau mungkin sebaliknya, bahagia, ia duduk di kursi kapten.

Lelaki tersebut segera berdiri tegak.

“Siap. Serangan dimulai segera setelah Spirit muncul.”

“AST?”

“Begitulah kelihatannya.”

AST, Anti Spirit Team.

Mengenakan armor mekanik untuk memburu Spirit, menangkap Spirit, membinasakan Spirit; melebihi manusia, namun belum se-level dengan monster; mereka adalah wizard
penyihir zaman modern.

Dengan kata lain—kenyataannya, bahkan dengan taraf kemampuan superhuman saja masih belum cukup untuk bertarung serius dengan Spirit.

Kekuatan Spirit ada pada taraf yang berbeda.

“—Kami sudah memastikan sepuluh orang. Pada saat ini kami sedang mengawasi salah satunya, yang sedang bentrok dalam pertarungan.”

“Perlihatkan tampilannya.”

Atas kata-kata sang komandan, rekaman real-time[16] ditampilkan pada monitor raksasa di bridge.

Pada jalan lebar sekitar dua blok dari pusat kota, terlihat dua gadis sedang bertarung sambil mengayunkan senjata-senjata besar.

Seiringan bentrokan senjata, kilatan cahaya berhamburan, permukaan tanah menjadi retak, dan bangunan-bangunan runtuh. Sulit untuk membayangkan kalau pemandangan ini merupakan bagian dari kenyataan.

“Dia cukup handal. Tapi, yah, dengan Spirit sebagai lawannya dia mungkin tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

“Memang seperti yang anda katakan, tapi kenyataannya kita juga tidak bisa berbuat apa-apa.”

“...”

Sang komandan mengangkat kakinya, dan dengan tumit sepatu boots-nya menginjak kaki lelaki tersebut.

"Guhgii!"

Mengabaikan lelaki itu yang memasang wajah luar biasa bahagia, sang komandan pelan-pelan menghela nafas.

“Aku mengerti bahkan tanpa kau memberitahuku. Aku juga bosan cuma bisa melihat saja.”

“Jadi, apa yang anda maksud adalah...”

“Ya. Para Rounds[17] akhirnya sudah memberikan persetujuan mereka. Rencana sedang dimulai sekarang.”

Dengan kata-kata tersebut, suara para anggota crew di bridge menelan ludah dapat terdengar.

“Kannazuki.”

Sang komandan dengan santai bersandar ke punggung kursi, dan mengangkat tangan kecilnya dengan jari kedua dan jari ketiga terangkat lurus. Seperti meminta batang rokok.

“Siap.”

Lelaki itu dengan sigap mencari di sakunya, dan mengambil sebuah lolipop kecil. Ia dengan cepat namun hati-hati melepas bungkusnya.

Lalu, ia berlutut disamping komandan, dan mengatakan “silahkan” saat menempatkan lolipop itu di antara jari-jari komandan.

Sang komandan memasukkannya ke dalam mulutnya, dan batangnya mulai bergerak naik-turun.

“... ahh, kalau dipikir-pikir, ke mana ‘senjata rahasia’ kita? Dia tidak menjawab panggilanku tadi. Aku ingin tahu apa dia masuk ke shelter sebagaimana mestinya?”

“Coba saya selidiki—dan, huh?”

Lelaki itu memiringkan kepalanya, kebingungan.

“Ada masalah apa?”

“Err, itu.”

Sang lelaki menunjuk ke arah gambar. Komandan menggerakkan pandangannya ke sana—"ah", dia membuat suara pendek.

Di sisi pertarungan antara sang Spirit dan sang anggota AST, terbentang sosok lelaki berpakaian seragam sekolah.

“... Timing yang sempurna. Cepat pungut dia.”

“Dimengerti.”

Lelaki itu menunduk hormat.